Detektor dark matter milik tim COSINE-100 (News Yale Edu)
Detektor dark matter milik tim COSINE-100 (News Yale Edu)

MALANGTODAY.NET – Bagi kalangan akademisi, siapa yang tak kenal dengan jurnal Nature? Ya, jurnal Nature adalah jurnal ilmiah bereputasi dan memiliki prestise tinggi bagi penulisnya.

Adalah Prof. Dr. Ing Mitra Djamal, dosen program studi Astronomi ITB yang Desember 2018 lalu berhasil menembus jurnal Internasional bergengsi ini. Topik penelitian yang diajukannya adalah tentang dark matter atau materi gelap penyusun alam semesta.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam judul An Experiment to Search for Dark-Matter Interaction Using Sodium Iodide Detectors.

Mitra melakukan penelitian ini bersama-sama dengan Tim COSINE-100. COSINE-100 adalah suatu kolaborasi penelitian yang dilakukan oleh 50 ilmuwan dari Brasil, Amerika Serikat, Indonesia, Inggris, dan Korea Selatan.

Dari Indonesia, selain ada Mitra juga ada Hafizh Prihtiadi. Saat ini, Hafizh merupakan mahasiswa S3 program Doktor Fisika ITB dengan kelompok keahlian Fisika Instrumentasi.

Penelitian ini dianggap menarik karena mampu membuktikan kesalahan penelitian sebelumnya yaitu penelitian dari grup DAMA. Dalam hal ini detektor tim COSINE memiliki sensitivitas yang lebih baik daripada DAMA.

“Kenapa ini menjadi sangat mengejutkan? Karena hasil eksperimen tim COSINE-100 menyangkal hasil yang didapat tim DAMA tentang Dark-Matter yang diklaim tim DAMA 20 tahun yang lalu,” ujar prof. Mitra Djamal dilansir dari Itb.ac.id (7/1/2019).

Ia berharap keberhasilannya Indonesia dalam menembus jurnal Nature ini bisa menjadi pelecut semangat peneliti lainnya. Bahkan keterlibatan mahasiswa dalam penelitian juga dianggap adalah langkah terbaik untuk menyiapkan generasi peneliti selanjutnya.

“Sampai saat ini tidak banyak peneliti Indonesia bisa tembus ke jurnal Nature, semoga hal ini bisa menjadi pemicu dan penyemangat bagi penelitian di Indonesia,” ujar mantan dosen program studi Fisika ITB ini.

Untuk dilaksanakan di Indonesia, hal ini nampak sulit untuk diwujudkan. Sebab, dana yang dibutuhkan untuk sebuah penelitian sangat besar.

“Kalau sekarang sih tampaknya belum memungkinkan, membangun laboratorium saja butuh milyaran rupiah,” tuturnya.

Meskipun sarana belum mencukupi, namun Mitra menyatakan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) orang Indonesia patut diperhitungkan. Sebab sudah terbukti, Indonesia memiliki orang-orang hebat yang bisa berkolaborasi dengan penelitian orang luar negeri.

“Ya, buktinya kita sanggup bekerja bareng dengan peneliti lain dari mancanegara dari awal sampai selesai kan? Kalau kinerjanya buruk tidak mungkin nama kita juga ada di daftar penulis,” pungkasnya.


Penulis: Almira Sifak
Editor: Almira Sifak

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.