Menghujam diri dengan keris dalam tradisi Ngerebong (IG @jayamahendraa_)
Menghujam diri dengan keris dalam tradisi Ngerebong (IG @jayamahendraa_)

MALANGTODAY.NET – Bali sangat kental dengan tradisi budayanya. Termasuk beragam ritual dan tradisi budayanya. Salah satu tradisi yang baru saja dilaksanakan umat Hindu Bali yaitu upacara Ngerebong.

Upacara ini jatuh setiap enam bulan sekali alias delapan setelah Hari Raya Kuningan.  Ngerebong akan jatuh pada hari Minggu wuku Medangsia atau dalam kalender Bali disebut Redite medangsia.

Ngerebong berasal dari kata ngereh dan baung. Ngereh adalah prosesi magis penyatuan antara pertiwi dan akasa. Sedangkan baung memiliki huruf vokal a adalah akara diartikan akasa dan u dengan sukunya berarti pertiwi.

Makna dalam pelaksanaan tradisi yang masih kental di Desa Kesiman, Denpasar ini ini adalah bentuk rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi. Secara khusus, rasa ini diungkapkan karena telah diberi kemenangan saat Hari raya Galungan dan Kuningan.

“Ya ibaratnya ritual ini seperti ungkapan rasa syukur kami lah. Nah kalau kami menyebutnya pesamuan Ida Bhatara yang ada di wilayah Kesiman,” ujar Sekertaris Bendesa Kesiman, I Nyoman Gede Widarsa dilansir dari Baliexpress.jawapos.com (13/1/2019).

Kesurupan dalam tradisi Ngerebong (IG @jayamahendraa_)
Kesurupan dalam tradisi Ngerebong (IG @jayamahendraa_)

Umumnya, sebelum melakukan Ngerebong, umat Hindu akan sembahyang di Pura Petilan. Kemudian adu ayam di bangunan seperti bale-bale (wantilan). Selanjutnya mengarak barong ke Pura Pengerebongan. Setelah itu mereka kembali ke wantilan dan mengelilinginya sebanyak tiga kali.

Saat mengelilingi wantilan tersebut akan ada beberapa orang yang kerasukan. Perilakunya saat kerasukan tidak hanya menari, menangis, dan berteriak saja. Mereka bahkan sampai menghujamkan keris di dada, leher, kepala, dan mata!

Meski begitu, tidak ada yang terluka! Hal ini dikarenakan ada kekuatan magis pada roh yang merasuki mereka sehingga ada efek kebal akan goresan dan tusukan keris.

Nyoman Gede menambahkan, sejarah adanya Upacara Berengong ini adalah dari ritual yang dilakukan di Kerajaan (puri) Kesiman untuk mengalahkan Kerajaan Lombok.

“Ya sejarahnya kan dulu Puri kesiman menyerang kerajaan Lombok. Kerajaan Kesiman sempat kalah ketika menggempur kerajaan Sasak dan sepulangnya dari kekalahan tersebut, Puri mengadakan sebuah ritual di Pura Uluwatu. Di Pura Uluwatu Raja Kesiman mendapat keris luk telu yang bernama sitekle dan Kerajaan Sasakpun dapat dikalahkan oleh senjata itu,” terangnya.

(AL)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.