Suasana Galungan di Bali (Subbali)
Suasana Galungan di Bali (Subbali)

MALANGTODAY.NET – Besok (26/12/2018) umat Hindu akan merayakan Galungan. Galungan adalah hari raya umat Hindu yang terjadi setiap 210 hari sekali atau 6 bulan sekali. Namun ternyata, tidak semua umat Hindu merayakan Galungan.

Di India, umat Hindu disana tidak mengenal Galungan. Hal ini dikarenakan Galungan merupakan tradisi Bali. Meskipun begitu, di Bali sendiri ada desa yang tidak merayakan Galungan. Desa tersebut yaitu Desa Tenganan di Karangasem, Bali.

Baca Juga  Perang Gebug Ende, Ritual Minta Hujan Warga Karangasem

“Perayaan Galungan merupakan tradisi Bali, karena Hindu yang ada di India tidak mengenal Galungan. Banyak orang bilang bahwa tradisi Bali dijiwai oleh ajaran Hindu, tapi pada praktiknya agama Hindu yang datang disesuaikan dengan praktik tradisi dan budaya yang sudah ada sebelum agama-agama datang di Bali,” ujar salah satu umat Hindu Bali, I Made Dwipayana dilansir dari Detik.com (1/11/2017).

Makna dari hari raya Galungan ini adalah kemenangan kebaikan atas kejahatan.

“Maknanya kemenangan Dharma atas Adharma, kemenangan kebajikan atas kebathilan,” tambahnya.

Selama perayaan Galungan, tentu ada pernak-pernik khas. Salah satunya adalah penjor. Penjor merupakan lengkungan bambu panjang yang dihiasi janur. Umat Hindu akan memasang penjor-penjor di depan rumahnya.

Jika diibaratkan, penjor adalah gunung. Di Bali yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani membuat penjor disini dihiasi hasil panen. Padi dan palawija adalah dua diantara hiasan-hiasan penjor. Selain itu biasanya juga disertakan lembaran mantra suci dan sesajen atau canang.

Baca Juga  5 Tradisi Masyarakat Hindu Bali dalam Menyambut Galungan

Selain itu, Galungan juga identik dengan pelaksanaan sembahyang di pura keluarga dan pura dadya di Kahyangan Tiga. Pura Kahyangan Tiga yang dimaksud adalah Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem.

Kemudian setelah sembahyang di pura, umat Hindu melakukan silaturahmi kepada sanak saudara.
“Bertemu keluarga di pura keluarga. Biasanya yang merantau akan pulang kampung untuk sembahyang di pura keluarga dan pura lainnya,” pungkasnya.


Penulis: Almira Sifak
Editor: Almira Sifak

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.