Tabloid Bola Pamitan, Generasi 90'an Baper Berjamaah. Kamu Juga?
Tabloid BOLA tutup usia (Istimewa)

MALANGTODAY.NETKids zaman now gak akan ngerti gimana susahnya era 90-an untuk mendapatkan informasi tentang sepak bola dan klub kesayangan kita. Paling gampang adalah dengan nongkrongin televisi di siang hari Sabtu yang terik menunggu Dik Doank membawakan acara Planet Football yang mengulas tentang info-info seputar sepak bola, baik dunia maupun nasional.

Tapi, acara itu hanya berlangsung tak lebih dari 60 menit. Sudah cuma seminggu sekali, tayangnya gak lebih dari sejam.

Bagi yang bener-bener suka dan kepo soal sepak bola, cara lainnya adalah dengan membeli tabloid atau majalah mingguan. Soccer dan Bola adalah media andalan untuk kita mendapatkan kabar, informasi, dan rubrik seputar dunia sepak bola.

Baca Juga: PSG Diduga Terlibat Pengaturan Skor, Kebanyakan Duit?

Pada tanggal 11 Oktober 2014 yang lalu, majalah Soccer resmi berakhir. Harian BOLA menyusul ‘karam’ satu tahun berselang. Kini, tabloid BOLA ikut mengundurkan diri.

Kabar tersebut disampaikan oleh Managing Editor BolaSport Firzie Idris melalui akun twitter pribadinya. Dikatakan oleh Firzie Idris bahwa tabloid Bola akan menerbitkan dua edisi terakhir sebagai salam perpisahan kepada para pembaca setianya.

“Berhubung sudah banyak yang nanya. Dua terbitan terakhir @TabloidBOLA adalah Jumat (19/10) dan Selasa (23/10) di mana edisi terakhir merupakan publikasi pamitan kami. @BolaSportcom tetap bertahan dalam perannya sebagai situs olahraga Kompas Gramedia,” tulis Firzie di twitter, Selasa (16/10/2018).

Era Informasi Sepak Bola Digital & Seputar Kabar Transfer Melulu yang Menyebalkan

Tak bisa dipungkiri, media dan karya telah beralih dari bentuk fisik ke bentuk digital alias online. Tak hanya topik sepak bola saja, bahkan musik pun sudah lebih banyak dinikmati melalui kanal digital.

Menikmati tabloid sepak bola dulu adalah wujud mencintai, mengkaji, dan mengamalkan sepak bola yang sesungguhnya.

Baca Juga: Maradona: Messi Bukan Pemain Terbaik Dunia! Sah Jadi Gelar Ronaldo?

Di era kejayaan tabloid dan harian sepak bola, tak ada yang peduli bahwa Prancis membawa trofi Euro 2000 dengan Cristhope Dugarry sebagai striker tandem Thierry Henry. Tentang bagaimana kerja sama antara Henry dan pemain ‘sekelas’ Dugarry di lini depan menjadi topik yang sangat bikin gatal untuk dibahas.

Bandingkan dengan zaman sekarang saat semuanya mendiskreditkan peran Olivier Giroud yang mengantarkan Prancis membawa pulang trofi Piala Dunia 2018. Statistik Giroud yang tak mencetak satu gol pun dan hanya mencatatkan satu tembakan ke arah gawang selama turnamen dianggap sebagai hal yang remeh oleh banyak orang.

Atau tentang fans Manchester United yang mengagungkan transfer Fred di bursa kepindahan pemain musim panas 2018 sebagai kejeniusan Mourinho dalam menemukan pemain. Berbekal video highlight dari YouTube, Fred adalah pemain yang sangat-sangat hebat menurut (banyak kok) fans MU zaman now. Emangnya berapa banyak fans MU yang nonton pertandingan Shaktar Donestk musim lalu?

Contoh lain misal seperti Krzysztof Piątek yang tampil ‘ngegas’ di awal-awal musim Serie A 2018 bersama Genoa. Dari tujuh laga bersama Genoa di Serie A, Piatek memang sudah mencetak sembilan gol. Hal yang cukup istimewa jika berhasil dilakukan di Liga Italia.

Baca Juga: Pep Guardiola Tak Sebut Messi Dalam Daftar 7 Pemain Kunci Saat di Barca. Lantas Siapa Saja?

Atas torehan tersebut, media dan sepak bola zaman now sudah sibuk memprediksi beberapa klub yang mengincar Piatek. Bayangkan! Belum genap dua bulan bermain bersama Genoa, kabar transfer dan kepindahan Piatek sudah menjadi ‘gorengan’ utama.

Jika saja fenomena moncernya Piatek ini terjadi di era 90-an, tentang bagaimana cara bermain, karakteristik, dan keistimewaan Piatek akan lebih diulas. Para ‘pesepak bola cilik’ akan lebih mudah meniru dan mempelajari bagaimana bermain sebagai seorang pemain yang diidolakan. Terkadang sambil meneriakkan nama pemain tersebut saat ia mampu mengimitasi gaya sepakan atau umpan dari sang pemain idola.

Bukan sekedar meniru selebrasi CR7, atau gaya dub Paul Pogba, atau ikon tangan gak penting yang dipopulerkan Delle Alli seperti yang jamak terjadi dewasa ini.

Akhir kata, terima kasih kepada tabloid Bola yang telah khusnuzon selama puluhan tahun menjadi sahabat setia para pecinta sepak bola. Selamat berpisah.


Penulis: Swara Mardika
Editor: Swara Mardika

Loading...