Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia yang juga dikenal sebagai Hari Pers Nasional (MalangTODAY)
Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia yang juga dikenal sebagai Hari Pers Nasional (MalangTODAY)

MALANGTODAY.NET Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985, tanggal 9 Februari merupakan Hari Pers Nasional. Hari tersebut juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Pers memiliki sejarah perjuangan dan peranan penting di Indonesia. Banyak hal yang telah dilalui pers sejak harinya ditetapkan. Salah satu profesi aktivis pers yang beriringan merasakan hal tersebut ialah reporter.

Baca Juga  20 Tahun Tragedi Semanggi yang Kusut, Mana Janji Jokowi?

Banyak pahit manis peristiwa pers yang telah reporter dalam meliput berita. Maka dari itu, profesi ini tidak bisa dianggap remeh. Bahkan, banyak pahlawan nasional yang mengawali perjuangannya dari menjadi reporter.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut pahlawan-pahlawan nasional yang pernah memiliki karir sebagai reporter. Bahkan berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia. Penasaran? simak di bawah ini!

1. Hamka

Pecinta sastra pasti sangat mengenal sosok yang satu ini. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan nama Hamka merupakan sastrawan sekaligus ulama yang pernah berjuang untuk Indonesia.

Hamka pernah menentang Belanda ke Indonesia dengan bergerilya di dalam hutan di Medan. Siapa sangka dia juga pernah merasakan profesi reporter.

Ia pernah membuat beberapa karya tulis seperti buku novel Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Bahkan sosok yang lahir tanggal 17 Februari 1908 ini juga menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat di tahun 1936. Meski akhirnya di tahun 1943 majalah tersebut harus musnah di tangan Jepang yang kala itu berkuasa.

Baca Juga  Fakta Rahasia Tentang Misi Apollo 7, Pembuka Jalan ke Bulan

2. Tan Malaka

Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau yang dikenal Tan Malaka sempat mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Ia juga menyempatkan diri untuk menulis beberapa propaganda buat para kuli yang dikenal juga Deli Spoor.

Bahkan sosok yang lahir di Pandam Gadang, Sumatera Barat ini juga merasakan penderitaan dan keterbelakangan hidup pribumi di sana. Dari situlah ia merintis karirnya di media massa. Salah satu karya tulisnya tentang penderitaan kuli tersebut melalui Sumatera Post.

Karya lainnya ialah tentang “Tanah Orang Miskin” yang menceritakan tentang perbedaan mencolok kekayaan kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord.

3. Mohammad Hatta

Mohammad Hata ternyata pernah menulis untuk koran-koran Jakarta dan majalah-majalah di Medan. Meski tidak terlalu politis, namun beritanya berhasil mendidik pembaca. Hatta menulis sejak dirinya dan Syahrir ditangkap Belanda pada 25 Februari 1934 dan dibuang ke Digul dan Banda Neira.

Baca Juga  119 Tahun Usia AC Milan, 5 Pemain Ini Sebut Menyesal Pernah Gabung Rossoneri

4. Tirto Adhi Soerjo

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo merupakan seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia yang dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia.

Surat kabar seperti Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Putri Hindia menjadi terbitannya. Ia merupakan orang pertama yang memakai surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum.

Tirto bahkan berani menulis kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pas zaman itu. Di tahun 1973, pemerintah memberi gelar Tirto sebagai Bapak Pers Nasional dan di tanggal 3 November 2006 sebagai Pahlawan Nasional.

Baca Juga  Hari Ini Berulang Tahun, DJ Khaled: Tuhan Terbaik!

5. Ki Hadjar Dewantara

Banyak yang belum tau jika Bapak Pendidikan Indonesia ini sempar berprofesi sebagai reporter. Karirnya di beberapa surat kabar bahkan tergolong penulis andal. Ki Hadjar Dewantara memiliki tipikal tulisan komunikatif, tajam, dan sangat antikolonial.

Ia sempat diasingkan Belanda karena tulisannya pada “Als ik een Nederlander was” yang berarti seandainya aku seorang Belanda dalam surat kabar De Expres, 13 Juli 1913. Pasalnya isi berita tersebut dinilai pedas di kalangan pejabat Hindia Belanda. (HAM)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.