Terjadi Penurunan Angka Bencana Alam di Kota Batu, Ini Rinciannya!
Ilustrasi bencana alam @Istimewa

MALANGTODAY.NET Tahun 2018 ini, Indonesia merasakan beberapa kali bencana dahsyat. Seperti halnya gempa di Lombok dan yang terbaru tsunami di perairan Selat Sunda. Meski tidak bisa memastikan dengan akurat, namun ramalan bencana masih bisa dilakukan untuk berjaga-jaga kedepannya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagaimana dilansir dari laman Intisari Online memprediksi bahwa masih akan banyak lagi bencana yang terjadi di Indonesia di tahun 2019.

Baca Juga  Keluarkan Letusan Freatik, Ada 120 Pendaki di Gunung Merapi

Bencana hidrometeorologi

Contoh dari bencana hidrometeorologi ialah banjir saat musim hujan atau kebakaran lahan saat musim kemarau. Dengan kata lain bencana ini dipengaruhi oleh faktor cuaca.

Walaupun tidak bisa diprediksi secara pasti, namun waktu dan faktor penyebabnya bisa diprediksi berdasarkan musim yang datang.

Banjir, longsor dan puting beliung diprediksi akan mendominasi peristiwa bencana selama 2019. Tepatnya di awal tahun, pertengahan April, dan pengujung tahun.

Hal ini disebabkan masih luasnya kerusakan daerah aliran sungai (DAS), lahan kritis, laju kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, dan perubahan penggunaan lahan di lingkungan dan masyarakat.

Untuk kebakaran hutan dan lahan diprediksi masih akan tetap terjadi. Tepatnya sekitar bulan Juni hingga Oktober saat musim kemarau tiba.

Bencana geologi

Contoh dari bencana ini ialah gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami. Dengan kata lain bencana ini dipengaruhi oleh faktor pergerakan di bawah bumi.

Bencana ini cenderung sulit diprediksi mengingat setiap lempeng memiliki waktu pergerakan berbeda dan bisa terjadi kapanpun dalam waktu cepat. Termasuk bencana gunung berapi.

Baca Juga  Tiga Bencana Alam Ini Dominasi Landa Kota Batu, Warga Patut Siaga

Sering terjadinya gempa dan tsunami disebabkan oleh sebagian besar wilayah Indonesia terletak di atas lempeng aktif yang selalu bergerak. Namun, wilayah Indonesia bagian timur diminta untuk lebih waspada dan berhati-hati.

Sebab, di wilayah itu memiliki lempeng atau sesar yang lebih rumit dan rentan terjadi bencana. Sementara, potensi tsunami ada jika gempa tektonik terjadi dengan kekuatan di atas magnitude 7 dan terjadi di jalur subduksi dengan kedalaman kurang dari 20 kilometer.

Meski begitu, kita masih bisa menangkal bencana tersebut dengan persiapan dan pengetahuan yang lebih baik kedepannya.


Penulis : Ilham Musyafa
Editor : Ilham Musyafa

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.