Sampai kapan kasus Munir masih menjadi misteri seperti ini @ Tribunnews

MALANGTODAY.NET – Hari ini 14 tahun yang lalu, 7 September 2004, seorang aktivis pejuang HAM mati dibunuh dengan keji. Di atas pesawat, Munir harus meregang nyawa setelah diracun di atas pesawat terbang dalam perjalanan menuju Belanda.

Terkadang negeri ini memang menyisipkan banyak komedi-komedi terselubung. Hanya butuh tak kurang dari satu minggu untuk menemukan seorang pencuri ternak sapi. Namun selama 14 tahun negara juga tak mampu menguak kasus Munir yang sampai hari ini masih menjadi teka-teki.

Desember 2004, pemerintah sepertinya ingin serius menuntaskan kasus ini dengan membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) Munir. Temuan TPF sangat mengejutkan. Dinyatakan dalam temuan itu bahwa pemerintah ikut andil dalam pembunuhan Munir.

Baca Juga: Terlahir Payah, 4 Shinobi Ini Buktikan Kerja Keras Buahkan Hasil

Dilansir dari Kumparan, mereka yang terlibat diantaranya Muchdi PR (Deputi V Bin), dan A. M. Henro priyono (Kepala BIN periode 2001-2004). Tak hanya pemerintahan saja, manajemen Garuda juga dikatakan ikut mengambil peran.

Mantan Direktur Utama Garuda Indra Setiawan dan Mantan pilot Garuda Polycarpus dikatakan terlibat dalam kasus pembunuhan itu. Nama terakhir seperti menjadi tumbal karena ia harus menjalani hukuman kurungan di penjara karena terbukti di pengadilan sebagai eksekutor yang menuangkan racun arsenik ke dalam minuman Munir.

Sementara Aktor Lainnya?

Munir yang aktif sebagai pengacara para korban penculikan harus mati dengan cara yang tak jauh beda dari apa yang ia bela. Beragam spekulasi muncul berkat mandeknya investigasi dan laporan TPF.

Baca Juga: Akhirnya Bersuara, Jawaban Roy Suryo Terkait Aset Negara Bikin Panas

Beberapa spekulasi populer yang mencuat atas kasus pembunuhan ini adalah karena Munir ingin membocorkan rahasia negara; hingga spekulasi masalah individu Munir dengan petinggi militer Orde Baru.

Asumsi yang paling kuat mencuat adalah karena militer memang tidak suka kepada Munir. Alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini bahkan pernah menuding Prabowo Subianto dan Muchdi PR sebagai pihak yang bertanggung jawab terkait kasus penculikan aktivis yang terjadi di tahun 1998.

Aksi Kamisan Hingga Lagu Efek Rumah Kaca

Beberapa aktivis dan peduli HAM menginisiasi Aksi Kamisan. Aksi Kamisan ini merupakan tuntutan bagi pemerintah untuk menolak lupa terkait penyelesaian kasus pembunuhan ini.

Unjuk rasa yang identik dengan payung hitam tersebut tak hanya menuntut pemerintah menyelesaikan kasus pembunuhan Munir; sekaligus mendesak kasus-kasus HAM di Indonesia untuk bisa mendapatkan pengadilan dan proses hukum yang layak.

Baca Juga: 5 Prinsip Orang Jepang, Indonesia Wajib Contek Jika Ingin Maju

Janda Munir, Suciwati menjadi salah satu pemrakarsa aksi ini terjadi. Setiap hari Kamis, beberapa masyarakat yang peduli akan turun unjuk rasa menuntut keadilan. Aksi ini telah terjadi sejak 11 tahun terakhir.

Efek Rumah Kaca, salah satu unit grup musik kenamaan Indonesia mengemas peristiwa ini menjadi sebuah karya kritis yang dirangkum pada lagu berjudul Di Udara.

Melalui lagu Di Udara, Efek Rumah Kaca menyuarakan tuntutan keadilan dan kepastian hukum bagi para korban kejahatan hak asasi manusia.

Bisa dibilang lagu Di Udara ini akhirnya menjadi anthem yang kuat dalam menyuarakan perlawanan dan menuntut ketidakadilan.

Baca Juga: InspirasiHiburan
Dulu Dinikahi Umur 12 Tahun, Begini Penampilan Istri Syekh Puji Kini

Berikut lirik lagu milik Efek Rumah Kaca, Di Udara.

Aku sering diancam

juga teror mencekam

Kerap ku disingkirkan

sampai dimana kapan

Ku bisa tenggelam di lautan

Aku bisa diracun di udara

Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

Aku sering diancam

juga teror mencekam

Ku bisa dibuat menderita

Aku bisa dibuat tak bernyawa

di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

Ku bisa dibuat menderita

Aku bisa dibuat tak bernyawa

di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Ku bisa tenggelam di lautan

Aku bisa diracun di udara

Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

[Reff:]

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

Pertanyaannya, beranikah pemerintah kini atau yang akan datang mengungkap misteri kasus pembunuhan Munir?


Penulis: Swara Mardika
Editor: Swara Mardika

Loading...