Burung Anis Gunung alias Jalak Lawu alias Turdus poliocephalus (IG @caesarimage)
Burung Anis Gunung alias Jalak Lawu alias Turdus poliocephalus (IG @caesarimage)

MALANGTODAY.NET – Para pendaki gunung pada umumnya kenyang akan hal-hal yang berkaitan dengan mitos saat mendaki gunung. Misalnya saja bagi mereka yang pernah mendaki Gunung Lawu. Dari sederetan misteri yang melekat pada gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini, ada satu yang menarik. Ini mengenai burung anis gunung.

Keberadaan burung anis gunung ini dirasa sangat menguntungkan para pendaki. Sebab, burung yang memiliki paruh warna kuning gading ini seringkali membantu pendaki yang kala itu tersesat. Burung anis gunung ini akan memberi petunjuk jalan kepada para pendaki.

Banyak pendaki dan warga sekitar yang juga membenarkan hal ini. Bahkan beberapa burung anis gunung nampak sengaja mengikuti jejak para pendaki.

“Masih banyak populasinya, terutama di area mendekati puncak gunung. Burungnya selalu ada di depan pendaki, dan saat mau didekati pasti langsung terbang. Lalu datang lagi di depan, begitu seterusnya. Jadi seakan menunjukan jalan,” ujar anggota Tim SAR Anak Gunung Lawu, Danang Sutopo dilansir dari Kompas.com (19/1/2018).

Meski demikian, ada juga beberapa warga yang menilai hal ini hanya kebetulan saja. Sebab, burung-burung tersebut hanya mengincar makanan yang dibawa para pendaki.

“Itu terserah pandangan masing-masing saja, tetapi menurut saya, burung itu hendak mencari sisa mi yang bentuknya mirip cacing. Burung itu kan sukanya makan cacing,” kata Danang.

Hal ini didukung dengan beberapa warga memang pernah mendapati burung tersebut sedang mecari sisa-sisa makanan di jalur pendakian.

“Saya pernah mengamati burung tersebut, (mereka) memanfaatkan sisa-sisa makanan pendaki yang ditinggalkan di jalur pendakian atau di pos perhentian. Jadi, kemungkinkan burung tersebut mendekati pendaki karena terbiasa memperoleh makanan sisa dari pendaki, terutama sisa makanan yang ada di jalur pendakian,” saksinya.

Kemudian untuk keberadaan burung ini sebetulnya bukan dari ketidaksengajaan. Burung bernama ilmiah Turdus poliocephalus ini memang memiliki habitat di daerah pegunungan.

“Jenis ini memang habitatnya ada di pegunungan, bahkan ada yang tinggal di puncak. Perilaku burung ini memang mencari makan di daerah vegetasi yang rimbun, di tanah, atau di wilayah terbuka seperti di jalur pendakian,” ungkap ahli burung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mohammad Irham. (AL)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.