Sekolah Rentan Bullying, Kenali Jenis dan Solusi Penanganannya
Bullying di lingkungan pendidikan @Nanda/MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Bullying menjadi problema yang kerap mengiringi laju pendidikan di Indonesia. Tercatat lewat data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA), 8 dari 10 siswa sekolah terlibat dalam bullying di lingkungan pendidikan.

Psikolog Andrew Mellor meninjau bullying sebagai perilaku yang muncul karena adanya kesenjangan kekuatan yang diikuti pola repetisi. Beberapa jenis bullying yang kerap terjadi di lingkungan pendidikan yaitu bullying fisik (memukul, melukai, merusak benda korban), bullying verbal (mengejek, member julukan buruk, meneror, memberi pernyataan seksual, memfitnah), bullying relasi sosial (pengucilan, menghasut, menebar rumor, menghancurkan reputasi), dan bullying elektronik (cyberbully).

Baca Juga: Angka Bullying di Lingkungan Pendidikan Mencengangkan!

Dampak Bullying dalam Lingkungan Pendidikan

Bullying jadi hal yang berbahaya dan patut diwaspadai karena membahayakan banyak pihak, baik korban, pelaku, hingga saksi sekalipun. berdasarkan riset yang dilakukan oleh Victorian Department of Education and Early Childhood Development, ada bahaya yang mengintai ketiga pihak karena bullying. Resiko yang akan dialami oleh pelaku adalah akan tumbuh kecenderungan untuk berperilaku agresif dan terllibat dengan jenjang kenakalan yang lebih tinggi di usia remaja nanti.

Adapun resiko yang diterima korban adalah rendahnya kecerdasan emosi yang menimbulkan ketakutan untuk melakukan banyak hal yang mengembangkan potensi diri. Perilaku ini dapat berujung pada kebenciannya pada sekolah. Sedangkan saksi akan mengalami tekanan psikologi berat karena akan selalu merasa waspada, takut, dan berpikir keras agar tidak menjadi target bullying selanjutnya.

Baca Juga: Pernah Alami Bullying, 2 Public Figure Malang Ini Beber Pengalaman dan Tips Hadapi Bullying

Dalam menangani bullying, menghukum pelajar bukanlah langkah yang cukup untuk menghentikan arus bullying. Hukuman tidak menyelesaikan urusan, malah justru menambah masalah baru. Pelaku bullying akan mengalami ketidakstabilan emosi karena perangainya yang agresif. Sebagai institusi pendidikan, seharusnya sekolah melakukan langkah bijaksana. Hal yang sama berlaku pada korban dan saksi.

Pentingnya Komunikasi

Dilansir dari Geotimes.co.id, penyeleseaian pada kasus bullying bisa dimulai dengan membangun komunikasi yang efektif dan terbuka antara guru, murid, dan orang tua murid. Orang tua seharusnya berpartisipasi dalam proses pendidikan anaknya di sekolah. Banyak orang tua yang cenderung abai dan menyerahkan begitu saja persoalan pendidikan sekolah pada gurunya. Padahal, pengawasan orang tua juga penting untuk menjaga komunikasi yang konsisten.

Baca Juga  Bikin Lemes, Jumlah Sampah Plastik di Lautan Tahun 2050 Bisa Lebih Banyak Daripada Ikan

Baca Juga: Mengenal Cyberbullying, Intimidasi Dunia Maya yang Begitu Mengerikan

Terlebih pada pelaku bullying, hukuman bukanlah langkah konkrit untuk menghentikan bullying. Biasakan untuk senantiasa menangani dan berkomunikasi satu sama lain serta bertukar pikiran antara orang tua – anak, orang tua – guru, dan guru – siswa.

Inti dari penanganan bullying adalah bagaimana mengajarkan pada anak keterampilan sosial dan interaksi yang baik satu sama lain, saling menghargai agar membentuk jiwa produktif dan bijak dalam menanggapi bullying.


Karet Bungkus : Ilham Musyafa
Penulis : Raka Iskandar
Editor : Raka Iskandar
Ilustrator : Nanda Tri Pamungkas

Loading...