Satoyama Initiative, Cara Jepang Seimbangkan Zaman yang Patut Ditiru
Sungai sebagai irigasi pertanian @ MalangTODAY.net/Nanda Tri Pamungkas

MALANGTODAY.NET – Sejak tahun 2009, negara maju Jepang mulai mengembangkan Satoyama Initiative. Satoyama dalam istilah Jepang diterapkan pada daerah kaki gunung dan tanah datar. Hal ini dilakukan Jepang untuk menyeimbangkan kemajuan ekonomi mereka, namun tak melupakan kekayaan alam dan lingkungan alami mereka.

Dewasa ini, satoyama telah didefinisikan tidak hanya sebagai hutan masyarakat campuran, tetapi juga sebuah lanskap yang dimanfaatkan untuk pertanian. Dari definisi tersebut, satoyama berisi mosaik hutan campuran, sawah, sawah kering, padang rumput, sungai, kolam, dan waduk untuk irigasi.

Baca Juga: Sungai Tercemar, Kesehatan Warga Terancam

Aliran sungai, kolam, dan waduk memainkan peran penting dalam menyesuaikan tingkat air sawah dan budidaya ikan sebagai sumber makanan yang berdikari pada konsep ini.

Sejatinya konsep satoyama telah diterapkan selama berabad-abad di Jepang. Namun, pertumbuhan ekonomi Jepang yang pesat sejak tahun 1955 membuat adanya kesenjangan ekonomi dan semakin menurunnya populasi masyarakat pedesaan.

Baca Juga: Problematika Pencemaran Sungai Bagi Makhluk Hidup Hingga Lingkungan

Maka dari itulah pemerintah Jepang kembali berusaha memugar konsep ini untuk kemudian di selaraskan dengan model bisnis dan ekonomi di era global.

Untuk itu, The Satoyama Initiative atau Balai Konservasi Satoyama akhirnya didirakan di kantor pusat Unesco pada tahun 2009 sebagai upaya global untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis dengan alam dengan satoyama sebagai model konservasi yang tujuannya bisa diterapkan di negara-negara lain dengan karakteristik serupa Jepang.

Baca Juga: Peduli Bencana Palu, Kolaborasi Kedai Kopi di Malang Gelar Acara Amal

Kanal televisi Discovery pernah membuat satu film dokumenter panjang terkait konsep satorama ini. Untuk berkenalan lebih dekat dan memahami konsep ini secara komprehensif, mendingan yuk kita bareng-bareng simak dokumenter ini.


Karet Bungkus: Rahmat Mashudi Prayoga
Penulis: Swara Mardika
Editor: Swara Mardika
Ilustrator: Nanda Tri Pamungkas

Loading...