Politik Identitas Lokal dan Kekinian, Semarak Oleh-oleh Khas Malang
Ilustrasi @Nanda Tri Pamungkas/MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Untuk ZensTODAY yang baru saja bergabung bersama kami, ini adalah program BUNGKUS (Berita Mingguan Khusus). Liputan komprehensif dari tim redaksi MalangTODAY.net dengan aneka ragam topik setiap minggunya sebagai upaya kami merawat, mengkritisi, sekaligus mengarsipkan Kota Malang.

Pada Edisi minggu lalu kami telah menyajikan ulasan seputar destinasi surga wisata pantai Malang Selatan. Lalu kami merasa ada yang kurang saat menyajikannya kepada pembaca. Beberapa hari kami berpikir, apa ya?

Oh, ternyata perasaan kurang manteb itu melipir karena kita berbicara tempat-tempat wisata tapi lupa berpikir oleh-oleh apa yang tersedia untuk dibawa.

Di edisi kali ini, kami senang karena perasaan yang kurang manteb itu tadi akhirnya buncah sudah. Kami sajikan informasi tentang oleh-oleh khas Malang yang berfokus pada ranah jajanan dan pangan bagi para pembaca; setia maupun tidak.

Oleh-Oleh Khas Malang

Penulis memiliki darah asli Arema yang mengalir ke setiap jalur urat nadi karena lahir puluhan tahun yang lalu di rumah sakit bersalin di dekat terminal Arjosari. Saat muda penulis harus hijrah bersama orang tua ke Ibu Kota.

Di sana, dengan penuh kebanggaan khas politik identitas kaum pendatang, penulis selalu antusias untuk menceritakan hal-hal hebat yang ada di Bhumi Arema. Setelah kesebelasan Singo Edan, destinasi wisata, sampai cuaca, hal yang tak boleh ketinggalan untuk dielu-elukan adalah ihwal kuliner dan cita rasa.

Tidak seperti konten kisah-kisah kebanggaan lainnya yang tersebut di atas, konten cerita soal kuliner dan cita rasa ini sedikit lebih merepotkan. Karena syarat bagi mereka untuk percaya adalah dengan menjajal dengan indra pengecap mereka sendiri atas kebolehan-kebolehan cita rasa yang dielu-elukan itu tadi.

Salah satu cara untuk melengkapi cerita itu adalah dengan membawakan oleh-oleh.

oleh-oleh /olèh-olèh/

  • sesuatu yang dibawa dari bepergian; buah tangan

Menurut KBBI daring, oleh-oleh adalah sesuatu yang dibawa dari bepergian. Jika kita telusuri sedikit lebih dalam, membongkarnya dengan ilmu dasar morfologi, oleh-oleh dibentuk oleh kata dasar oleh yang mengalami pengulangan.

Menilik pada data yang disajikan KBBI daring;

oleh /olèh/

  1. kata penghubung untuk menandai pelaku: rumah ini dibeli — ayahnya bulan lalu; tidak teringat — ibuku bahwa hari ini hari ulang tahun anaknya
  2. sebab; karena: tidak lapuk — hujan; binasa — perbuatannya sendiri
  3. akibat: — kurang hati-hatinya maka ia jatuh
  4. p ark (ke)pada (yang menyatakan hubungan keluarga): ia pun kemenakan juga — Engku Payo
  5. p ark bagi (untuk): persoalan itu menjadi pikiran –ku
  6. p ark dengan: pohon itu sarat — buah

Menggunakan imajinasi semantik, oleh memiliki arti; kata penghubung, sebab, akibat, (ke) pada (yang menyatakan hubunungan keterikatan), bagi (untuk), dengan.

Maka mari berimajinasi bahwa oleh-oleh adalah kumpulan kesatuan makna oleh. Oleh-oleh adalah bentuk kata benda dari frasa oleh yang bersifat kata hubung.

Di dalam sebuah oleh-oleh idealnya memiliki unsur yang menghubungkan. Oleh-oleh bisa memberikan koneksi hubungan sebab-akibat yang nyata. Kata yang memiliki konotasi buah tangan ini seharusnya dapat mewakili wajah dari daerah yang ia representasikan. Oleh-oleh adalah agen kota yang krusial dalam mempromosikan wajah daerahnya kepada area jangkau yang lebih luas. Oleh-oleh adalah ksatria yang mengejawantahkan cerita-cerita hebat suatu daerah. Sehinga kisah tak hanya didengar telinga,  namun juga dikecap indera perasa.

Sebagai kota destinasi favorit wisata sekaligus kota pendidikan, Malang Raya tentu memiliki banyak sekali ragam oleh-oleh berupa jajanan, makanan, dan minuman yang ditawarkan. Dewasa ini, khasanah peroleh-olehan di Malang Raya menjadi semakin semarak karena kedatangan pendatang baru industri oleh-oleh kekinian yang turut meramaikan.

Hadir dengan konsep lebih modern beserta sajian kudapan masa kini, oleh-oleh pendatang baru tersebut dengan cepat mendapat tempat di hati masyarakat. Tak bisa dipungkiri bahwa hal itu bisa terjadi selain karena model bisnis yang memang telah dipersiapkan secara matang, juga karena pengaruh sosok figur publik yang namanya telah familiar didengar masyarakat; adalah aktor di balik industri oleh-oleh pendatang baru.

Dengan cepat pula oleh-oleh kekinian ini menjadi rujukan dan preferensi buah tangan yang identik dengan Kota Malang. Beberapa masyarakat yang berasal dari luar Malang juga mulai banyak yang mengenal oleh-oleh kekinian tersebut. Selain memang karena gerai-gerai oleh-oleh kekinian yang banyak tersebar di beberepa sisi kota, faktor kemudahan dan kemasan yang praktis dibawa menjadi salah satu keunggulan oleh-oleh kekinian untuk mendatangkan pengunjung. Kalau soal rasa itu masalah selera saja.

***

Lantas bagaimana nasib produsen oleh-oleh lokal khas Malang sendiri atas kedatangan model baru khasanah peroleh-olehan itu?

Tim MalangTODAY.net mendatangi sentra kawasan oleh-oleh keripik dan tempe Sanan untuk berbincang terkait dinamika industri oleh-oleh di Malang. Mendatangi salah satu produsen rumahan terbesar di kawasan tersebut, redaksi kami mendapati bahwa kedatangan oleh-oleh kekinian tidak berdampak apapun bagi mereka. Keripik tempe sanan masih berjaya dan dipercaya oleh pasarnya sendiri.

Malahan, pelaku mengatakan bahwa kehadiran oleh-oleh kekinian yang meramaikan industri itu semakin melecut semangat mereka untuk bergerak maju. Pola bisnis oleh-oleh kekinian juga dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi produsen oleh-oleh lokal untuk melebarkan sayap usahanya.

Seperti oleh-oleh keripik tempe Sanan misalnya yang mengatakan bahwa para produsen oleh-oleh di kawasan Sanan mulai melakukan inovasi dan pengembangan. Di antaranya seperti mengembangkan pola usaha berbasis IT. Mereka juga menjalankan program studi banding ke berbagai daerah untuk terus belajar. Baca Juga: Masih Dominan, Peminat Keripik Tempe Tak Tergerus Oleh-oleh Kekinian

“Kita sekarang juga mengembangkan IT, meskipun masih mendatangkan pembeli beberapa persen saja. Orang – orang luar sudah mulai masuk ke wilayah (dalam) kampung tempe. Selai juga dibantu dengan kunjungan – kunjungan studi banding,” cerita Ketua Paguyuban Keripik dan Tempe Sanan, Muhammad Arif Sofyan Hadi kepada MalangTODAY.net.

Kendati demikian, sedikit rasa kekhawatiran memang masih menyelimuti para pelaku industri keripik dan tempe Sanan. Namun hal tersebut bukan alasan bagi mereka untuk menyerah dan tidak memajukan usaha mereka sendiri.

Bergeser ke arah selatan beberapa kilometer dari Sanan, cerita berbeda hadir dari kawasan Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Di sana terdapat usaha oleh-oleh tradisional berupa telur asin asap.

Di tengah dinamika bisnis yang semakin laju dengan nahkoda pasar kapital, telur asin asap harus berjuang keras untuk tetap bertahan. Menyikapi fenomena oleh-oleh kekinian yang hadir di Malang, Rinik Wahyuni selaku pemilik usaha telur asin asap tidak menganggap kehadiran oleh-oleh kekinian sebagai oposisi. Dirinya hanya berharap bahwa ada integrasi hingga regulasi yang efektif agar kedua model usaha oleh-oleh di Malang dapat berjalan selaras dan beriringan.Baca Juga: Oleh-oleh Telur Asap Pagelaran yang Semakin Tersingkirkan

Pada poin inilah peran aktif pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengawasi serta meminimalisir potensi-potensi kesenjangan yang mungkin saja terjadi.

MalangTODAY.net mengunjungi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang untuk mendapatkan respon terkait hal ini. Melalui Kabid Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang, Drs Wahyu Widodo menyatakan bahwa kedua model industri yang sedang berkembang di Malang saat ini cukup berimbang.

Menurutnya salah satu model industri oleh-oleh tidak lebih mendominasi dari yang lainnya karena minat dan animo masyarakat akan keduanya masih sama.

Lebih lanjut Drs Wahyu Widodo menyatakan bahwa kebijakan beberapa gerai oleh-oleh kekinian yang juga menampung oleh-oleh lokal khas Malang adalah langkah yang baik dalam upaya menyelaraskan dua model industri oleh-oleh ini untuk dapat terus berjalan beriringan.

***

Mula-mula, pada judul tulisan ini tertera “Lokal vs Kekinian, Jati Diri Oleh-Oleh ‘Khas’ Malang”. Namun, mem-versus-kan antara keduanya itu menurut penulis ternyata sama saja menganalogikannya dengan misal seorang editor harian media massa yang mengungkapkan perasaan cintanya kepada putri ayu buah hati baginda raja. Mempertemukan kontra dan konflik identitas antara dua insan yang serupa tapi berbeda seperti ini sejatinya hanya terjadi di tayangan-tayangan FTV saja. Baca Juga: Berimbang, Toko Artis dan Tempat Oleh-oleh Kota Malang Berjalan Selaras

Seperti ayam goreng kentuki dan ayam goreng nelangsa. Kopi Tofee dan Sido Mukti. Mereka bernyawa dari sperma yang sama. Namun menghidupi hidup dengan jalan sunyi yang berlainan arahnya.

Bagaimana oleh-oleh khas Malang berdiri gagah di atas kakinya sendiri sebagai ksatria politik identitas kota kini bukan lagi esensi. Membaurlah bersama demokrasi konsumsi dengan berbagai opsi.

Hitung-hitung ini bisa menjadi salah satu metode mengaji soal keberagaman dan merayakan perbedaan. Akhir kata; Semarak!


Karet Bungkus: Swara Mardika
Penulis: Swara Mardika
Editor: Endra Kurniwan
Graphic: Nanda Tri Pamungkas