Plastik Lama Diurai, Makin Lama Pula Penderitaan Manusia
Lama sampah terurai @Nanda/MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Hai ZensTODAY! Pastinya kalian akrab dengan benda bernama plastik kan? Yup ketahuilah kalau plastik ternyata menjadi salah satu ancaman serius bagi bumi. Ancaman ini sendiri sebenarnya sudah disadari sejak medio 1970 – 1980 an. Reputasi plastik sebagai industri mulai dipertanyakan oleh berbagai kalangan mengingat plastik bertahan sangat lama di lingkungan ketika sudah tidak terpakai lagi.

Poin pertama jelas, plastik sangat lama untuk diurai oleh alam. Tapi, seberapa lama?

Baca Juga: Ironi Plastik, Juru Selamat Dunia yang Kini Ancam Kelangsungan Umat Manusia

Dalam data yang dihimpun oleh Petungsewu Wildlife Education Center, plastik memiliki kisaran hancur diurai alam dalam waktu 50 – 100 tahun. Bahayanya setara dengan penguraian baterai dan aluminium yang membutuhkan waktu hingga 100 tahun juga.

Meski demikian, tak semua plastik diurai alam dalam rentang waktu tersebut. Semisal plastik kemasan seperti bungkus detergen, shampoo, hingga makanan ringan membutuhkan waktu sekitar 50 – 80 tahun. Sedangkan untuk kantung platik atau yang biasa kita kenal tas kresek butuh waktu 10 – 20 tahun untuk hancur.

Sebenarnya ada sati solusi lain untuk mengatasi penguraian sampah plastik ini, yaitu dengan melibatkan fenomena fotodegradasi. Fenomena ini adalah menghancurkan plastik dengan pancaran ultraviolet dari sinar matahari. Namun sayang, fenomena ini termasuk keajaiban karena butuh waktu sekitar 500 – 1.000 tahun mendatang.

Baca Juga: Geliat Pemerintah Kota Malang dalam Tingkatkan Melek Literasi

Lalu seberapa parah dampak plastik -yang bertahan sangat lama itu- bagi lingkungan?

Dilansir dari KlikDokter.com, sampah plastik berdampak pada pencemaran baik di darat, laut, maupun udara. Di daratan, plastik dapat menghalangi peresapan air dan sinar matahari. Hal ini berakibat pada kesuburan tanah dan menyebabkan banjir.

Kemudian di lautan, sampah plastik memberi sumbangsih 90 persen sampah di lautan. Sampah di lautan yang terkena proses fotodegradasi akan memecah plastik dalam ukuran kecil-kecil. Selanjutnya, bahan beracun dari plastik menyatu ke lautan dan termakan oleh hewan-hewan laut. Hal itu juga bisa berdampak ke manusia yang kemudian mengonsumsinya.

Baca Juga  Oleh-oleh Telur Asap Pagelaran yang Semakin Tersingkirkan

Jika di udara, komponen plastik yang bertebaran memiliki zat-zat berbahaya. Contohnya, jenis plastik PVC memiliki kandungan halogen yang akan menghasilkan dioksin apabila dibakar. Padahal, dioksin merupakan komponen paling berbahaya yang berdampak buruk bagi manusia.

Baca Juga: Bungkus
Darurat Literasi, Bangsa Indonesia Gampang Kena Hoax

Selain itu, artikel dalam Science History turut memaparkan dampak buruk dari plastik. Sederhananya, plastik mengandung zat aditif berupa bisphenol A (BPA) dan ftalat. Bahan ini yang kemudian membuatnya fleksibel, tahan lama, dan transparan. Kandungan ini akan sangat berbahaya jika tercampur dalam makanan dan air dan masuk dalam tubuh kita. Dalam dosis tinggi yang tidak disadari, bahan kimia ini akan mengganggu sistem hormonal tubuh. Kemungkinan terburuk jangka panjang, aka nada akumulasi berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.

Jadi, masih mau pakai plastik?


Penulis: Raka Iskandar
Editor: Raka Iskandar

Loading...