Penggita literasi di Kota Malang, Santoso Maaharagono@ Tri Nanda Pamungkas/MalangTODAY.net

MALANGTODAY.NET – ZensTODAY pernah mendengar GO READ? Hmm mungkin yang terlintas di pikiran adalah salah satu penyedia jasa transportasi online ya. Tapi ini bukan salah satu layanan dari jasa tersebut.

Go read adalah suatu upaya Forum Komunikasi Taman Bacaan Masyarakat (FKTBM) Malang Raya untuk mobilisasi bacaan bagi masyarakat. Inisiatornya adalah Santoso Maaharagono, salah seorang penggiat literasi di Malang Raya.

Walaupun saat ini ia tercatat sebagai PNS di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip daerah Kota Malang sejak 2010, ia tetap peduli dengan literasi di masyarakat. Awalnya ia ingin ikut andil di masyarakat, tapi statusnya sebagai PNS membuatnya tertantang.

“Saya sebagai pustakawan bisa membantu bagaimana? Saya kerja mulai 8 sampai 4 sore. Kalau ada piket bahkan sampai malam jam 8. Sabtu-Minggu juga piket,” ungkapnya kepada MalangTODAY.net.

BACA JUGA: Yuk Kenalan dengan MAGER, Inisiator Angkot Baca dan Angkot Cerdas di Kota Malang

 

View this post on Instagram

 

A post shared by MalangTODAY (@malangtodaynet) on

Namun pada akhirnya ia berhasil menjawab tantangan tersebut. Ia berkumpul dengan para penggiat literasi di Malang dan Batu. Kemudian tercetuslah suatu forum bernama Forum Komunikasi Taman Bacaan Masyarakat (FKTBM) Malang Raya. Forum ini resmi dideklarasikan pada 17 Mei 2016.

Dari forum tersebut total ada 70 orang penggiat literasi, 50 anggotanya memiliki rumah baca. Hingga kini anggotanya terus berkembang.

“Berkembang di tahun 2017  bertambah anggota seperti mahasiswa non perpus, wartawan, relawan disabilitas, guru paud, guru ngaji, pak camat, peneliti, penerbit, dll sampai saat ini pengelola sampai 160, yang bukan pengelola 50 orang,” imbuhnya.

Umumnya dulu para penggiat literasi pendiri Taman Baca Masyarakat (TBM) berjuang sendiri dan kurang pengalaman dalam dunia taman baca. Padahal seharusnya ada pustakawan yang terlibat

“Menurut saya literasi, minat baca, inklusi sosial, harusnya ada pustakawan yg terlibat,” tandasnya.

Inklusi sosial yang dimaksud yaitu literasi tidak hanya sekedar baca, tulis, dan hitung akan tetapi hingga taraf kesejahteraan masyarakat. Ditambah lagi sekarang sudah mulai digalakkan Sustainable Development Goals (SDG) oleh UNESCO sehingga literasi kian tertanam di masyarakat.

Baca Juga  Bukti Penghormatan Kota Malang kepada Sang Jenderal

“Masyarakat kekurangan buku, dan seperti berjuang sendiri, tidak memiliki pengalaman yg dinamis (taman baca saja selesai) padahal ada materi tentang kemasyarakatan lain,” sambung penulis berita di website perpus Kota Malang ini.

Adanya FKTBM ini telah dirasakan manfaatnya bagi para relawannya maupun masyarakat terkait.

“Dengan begini bagi penggiat TBM mendapat teman saudara baru, ilmu baru, jaringan baru, tambahan ilmu, dan jaringan ekonomi,” ujar alumni S1 Perpustakaan Wijaya Kusuma Surabaya ini.

Dari komunikasi-komunikasi yang terjalin sejak terbentuknya FKTBM, muncullah ide program GO READ (ojek buku). Ada 15 relawan yang membantu jalannya GO READ sejak diresmikan 6 November 2016 ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by MalangTODAY (@malangtodaynet) on

BACA JUGA: Serunya Taman Baca di Kota Batu, Mulai yang Agamis hingga Kekinian!

Program ini menerima dan membuka donasi buku dari masyarakat, lembaga pendidikan, dan bank. Hasilnya, ada 3000 eksemplar buku yang terkumpul. Genre bukunya pun beragam. Adanya GO READ ini juga menfasilitasi rolling buku bacaan dari TBM satu ke TBM lainnya di Malang Raya.

Menurut peraih Juara 2 Lomba Pustakawan Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2018 ini, masyarakat Indonesia masih banyak yang peduli dengan literasi.

“Menurut saya di Indonesia rata-rata orang yang ekonominya menengah ke bawah malah lebih peduli,” jelasnya.


Karet Bungkus: Endra Kurniawan
Ilustrator: Nanda Tri Pamungkas
Reporter: Andika Fajar Kurniawan
Penulis: Almira Sifak
Editor: Almira Sifak

Loading...