Menelusuri ‘Patung Pesawat’ di Ujung Soekarno-Hatta Kota Malang
Monumen Pesawat MIG-17 Fresco@Nanda/MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Buat ZensTODAY Kota Malang, pasti nggak pernah asing sama yang namanya ‘Patung Pesawat Suhat’? Yap, monumen berbentuk pesawat gagah yang berada di pusat empat penjuru Suhat–Permata Jingga-Sudimoro–Borobudur biasanya dijadikan patokan arah bagi penduduk area setempat.

Coba saja kamu tanya penduduk setempat, semisal, “Kampus UB ke Sudimoro lewat mana, ya?” Biasanya orang akan menjawab “Lurus terus ke arah Suhat, sampai ujung, setelah patung pesawat, lurus lagi.” Sesederhana itu.

Baca Juga: Patung Hamid Roesdi, Simbol Kecerdasan Pahlawan Gerilya Malang

Namun buat kamu yang belum tahu, istilah ‘patung pesawat’ bukanlah nama sebenarnya. Monumen ini memiliki nama asli Monumen Pesawat MIG-17 Fresco.

Dihimpun dari informasi berbagai sumber, MIG-17 Fresco  adalah salah satu jenis pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang berjasa besar dalam sejarah pertempuran penerbangan Indonesia. Pesawat ini didatangkan oleh pemerintah Indonesia tahun 1960 dan harus pensiun pada 1969.

“Dulu orang menyebutnya pesawat cocor merah kalau tidak salah jenis mustang. Itu dipakai Belanda waktu Agresi Militer II. Pesawat ini setelah kemerdekaan dimiliki oleh TNI AU yang bermarkas di Abdurrahman Saleh,” ujar Drs. Heru Sunarko, M. Si, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang kepada MalangTODAY beberapa waktu lalu.

Meski harus terbang di dirgantara Nusantara dalam rentang waktu yang singkat, pesawat ini merupakan andalan Indonesia saat melakukan operasi pembebasan Irian Barat dari cengkeraman Belanda.

“Pesawat ini juga pernah ditugaskan saat pembebasan Irian Barat. Sekitar tahun 60an dari cengkraman belanda. Namanya pesawat pancar gas atau pagas, jet tempur,” terang Heru.

Baca Juga: Patung Buto Turu, Sejarah Perjuangan Masyarakat Malang di Monumen Juang 45

Tak Ada Hubungannya dengan JL Soekarno – Hatta

Setelah tak lagi digunakan oleh AURI, pesawat ini kemudian dipensiunkan Lapangan Udara Abdurrahman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang. Satu dari beberapa pesawat MIG-17 ini kemudian dijadikan monumen di utara jalan Soekarno – Hatta, Kota Malang.

Meski ditempatkan di Suhat, pesawatn ini tak memiliki keterkaitan khusus dengan tempat tersebut. hal ini diutarakan oleh pakar sejarah dan dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang (UM), Drs. M. Dwi Cahyono, M. Hum.

“Pesawat itu berkaitan dengan sejarah AU, tapi pesawat itu tidak terkait langsung dengan ujung utara jalan Soekarno Hatta,” tukas Dwi Cahyono.

Baca Juga: Bukti Penghormatan Kota Malang kepada Sang Jenderal

Senada dengan Dwi, Heru Sunarko menjelaskan bahwa tak ada kaitan sejarah khusus antara pesawat dengan wilayah tersebut. Sejauh yang diketahui, pesawat tersebut ditempatkan di sana karena sudah tua dan tidak bisa digunakan lagi.

“Karena usia pesawat yang sudah tua dan tidak bisa digunakan lagi, diletakkanlah pesawat ini di Soekarno Hatta,” tandas Heru.


Karet Bungkus: Umul Latifa
Reporter: Rahmat Mashudi Pryoga
Penulis : Rakata Iskandar
Editor: Endra Kurniawan
Graphic: Nanda Tri Pamungkas