Ilustrasi minat baca@Nanda Tri Pamungkas/MalangTODAY.net

MALANGTODAY.NET – Bicara soal pendidikan, dapat dikatakan bahwa negara kita Indonesia belum sepenuhnya berjaya di pentas internasional. Di Asia Tenggara saja, Indonesia masih belum mampu berbicara banyak karena hanya duduk di peringkat 5. Seperti apa memang kualitas pendidikan di Indonesia? Mari kita jabarkan berdasarkan data terlebih dahulu.

Salah satu media Jerman Deutsche Welle di tahun 2018 merangkum bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih kalah dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam. Dalam skala internasional, negara-negara seperti Palestina, Samoa, dan Mongolia mampu mengungguli Indonesia yang hanya mampu duduk di peringkat 108 dunia. Wajar saja, 44 persen masyarakat Indonesia tidak menuntaskan pendidikan menengah. Sedangkan 11 persen murid gagal menyelesaikan masa studinya.

Baca Juga: Dari Perpecahan hingga Adu Domba, Ini Efek dari Berita Hoax

Bukan suatu rahasia jika literasi merupakan salah satu faktor yang menyokong kualitas pendidikan suatu negara. Urusan literasi, Indonesia sama sekali tertinggal dari negara lain. Dalam survei yang dilakukan oleh Central Connectitut State University yang bertajuk Most Littered Nation in  the World, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara minat baca. Sekali lagi, nomor 60 dari 61 negara minat baca.

Dilansir dari Tirto.id, Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia sangat rendah. Ia membandingkan Eropa dan Amerika yang indeks bacanya rata-rata mencapai 25 – 27 persen. Sedangkan Jepang mencatatkan 15 – 18 persen indeks baca.“Sementara di Indonesia, jumlahnya hanya mencapai 0.01 persen per tahun,” ujar Najwa.

Membaca memang bukanlah aktivitas yang begitu digemari di Indonesia. Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas) pada 2017 mencatatkan data bahwa rata-rata orang Indonesia membaca buku 3-4 kali per minggu dengan durasi waktu 30 – 59 menit. Sebagai data bandingan, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu menonton televisi selama 300 menit per hari. Bayangkan, warga Australia saja hanya menghabiskan 150 menit per hari dan Amerika Serikat hanya 100 menit per hari. Fenomena ini diperkuat data BPS di 2015 yang menyebutkan pembaca surat kabar di Indonesia hanya mencapai 13,1 persen, sementara penonton TV bisa mencapai 91,5 persen. Ok, bisa dipahami?

Baca Juga  Upgrade Konsumsimu, Simak Beda Pola Gizi Seimbang dan 4 Sehat 5 Sempurna Ini
Tingkat minat baca di Indonesia@Nanda Tri Pamungkas/MalangTODAY.net

Jadi, Indonesia bisa dikatakan sedang krisis literasi. Benarkah?

Sebelumnya, mari kita luruskan definisi literasi terlebih dulu. Kantor Staf Presiden Indonesia menyebutkan bahwa indikator literasi bukan sebatas kemampuan baca dan tulis saja. Literasi berarti kemampuan memaknai teks dalam berbagai dimensi, di antaranya adalah huruf, angka, dan simbol kultural lainnya.

Baca Juga: Awas! Ada Isu yang Rawan Dijadikan Hoax

Ilmu seputar pemaknaan dalam studi wacana kritis pernah dipaparkan oleh Teeun A. Van Dijk. Van Dijk mengedepankan konsepsi teks sebagai simbol kultural yang tak hanya dipahami sebatas pada bentuknya saja, melainkan pada aspek-aspek kultural yang melingkupi penciptaan teks tersebut.

Singkatnya, literasi adalah pemaknaan dan penafsiran teks. Bukan sebatas bisa membaca, bisa menulis, atau melek huruf. Dengan menekankan pada ‘pemaknaan’, maka literasi menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya kedangkalan informasi.

Lalu apa yang terjadi jika literasi rendah?

Sebenarnya, sudah terjadi. Satu hal yang paling kentara saat ini adalah merebaknya hoax atau kabar bohong. Yap, kasus Ratna Sarumpaet terakhir mungkin bisa jadi contoh mudahnya. Sederhananya begini, sebagian masyarakat serta merta mempercayai kabar yang mengatakan bahwa Ratna dipukuli di salah satu bandara di kota Bandung. Tanpa ada konfirmasi dan klarifikasi, kabar tersebut heboh seketika sebelum akhirnya pihak Ratna sendiri mengakui bahwa kabar ia dipukuli adalah hoax. Setelah tahu kenyataannya, publik langsung menyerang Ratna dengan berbagai ujaran kebencian.

Secara hukum, Ratna sudah bersalah. Selesai. Namun, mari kita merenung sejenak. Apa kita juga tidak bersalah?

Baca Juga: Makin Marak, Ini Ciri Berita Hoaks!

Begini, pengertian literasi barusan adalah pemaknaan teks. Teks yang dimaksud juga bukan sekedar teks, melainkan bisa mencakup hingga simbol-simbol kultural yang perlu ditelaah lebih lanjut. Kasus Ratna semacam bukti bahwa Indonesia memang pantas menyandang status sebagai negara dengan budaya literasi rendah karena emosi didahulukan daripada logikanya. Wong buat mengonfirmasi saja belum dilaksanakan, mau sok-sokan ngeles bahwa negara kita sudah berliterasi dengan benar.

Ok, ZensTODAY. Jadi sejauh apa literasi di negara kita? Ini dia BUNGKUS, Berita Mingguan Khusus MalangTODAY.net. Pantengin terus, ya!

Baca Juga  Masih Dominan, Peminat Keripik Tempe Tak Tergerus Oleh-oleh Kekinian

Karet Bungkus : Endra Kurniawan
Penulis : Raka Iskandar
Editor : Raka Iskandar
Ilustrator : Nanda Tri Pamungkas

Loading...