RBA jadi wadah belajar pemuda@Nanda Tri Pamungkas/MalangTODAY.net

MALANGTODAY.NET – Sudah jadi hal yang lumrah bagi hampir seluruh mahasiswa bahwasanya skripsi adalah salah satu momok menakutkan di dunia perkuliahan.

Skripsi membuat mahasiswa belajar lebih keras, hingga membuka ruang diskusi dengan teman-teman lainnya guna memperlancar ide dan inspirasi dalam mengerjakan skripsi.

Namun siapa sangka, akibat dari kegundahan skripsi, lahirlah suatu komunitas belajar yang perlahan makin besra dan bermanfaat bagi masyarakat banyak?

Komunitas Ruang Belajar Aqil (RBA) mungkin adalah salah satu contoh nyatanya. Cikal bakal komunitas ini bermula pada 4 Januari 2010 di sebuah perpustakaan salah satu universitas di Kota Malang.

Baca Juga: Darurat Literasi, Bangsa Indonesia Gampang Kena Hoax

Awalnya, RBA hanyalah perkumpulan yang terdiri dari dua orang anggota dan satu pendamping belajar yang fokus pada pembelajaran penelitian sesuai bidang studinya masing-masing. Namun hanya dalam tempo dua bulan saja, anggota perkumpulan ini bertambah hingga mencapai 21 anggota.

“Secara legal drafting RBA adalah perkumpulan, namun secara pelaksanaan RBA ini organisasi sekotr ke-3, bukan NGO dan LSM bukan,” tutur Dika, Manajer Program Komunitas RBA.

Kelompok ini kemudian dibubarkan 4 bulan berselang. Namun bukan untuk berhenti, melainkan memberikan kesempatan bagi pendamping untuk membentuk generasi kelompok belajar baru.

Generasi selanjutnya ini yang kemudian berkembang dari yang sebelumnya hanya fokus padapembelajaran penelitian, kini juga melebarkan fokusnya pada peningkatan keahlian hidup dan pembelajaran penelitian terapan dengan tema umum.

“Intinya, RBA adalah komunitas yang terbentuk dari masyarakat yang menjadi wadah belajar semua orang, terutama pemuda,’ tambah Dika.

Setelah berjalan hampir lima tahun, pada Oktober 2015 kelompok belajar mulai mengonstruksi RBA baik dari segi program maupun model pengelolaan. Ada filosofi khusus dari pemberian nama Rumah Balajar Aqil ini.

Baca Juga: Geliat Pemerintah Kota Malang dalam Tingkatkan Melek Literasi

“Ada tiga kata; ‘Ruang’ yang diartikan tidak terbatas; ‘Belajar’ yang diartikan belajar ya belajar sebagaimana mestinya; ‘Aqil’ berasal dari bahasa Arab yang artinya berpikir. Jadi RBA ini adalah wadah untuk belajar sehingga dapat berpikir. Menjadi orang-orang yang berpikir,” jelasnya.

Baca Juga  Pesona Malang Selatan, 10 Pantai Ini Paling Pas Dikunjungi Bersama Keluarga

Perlahan tapi pasti, RBA mulai diminati oleh banyak pemuda. Konsep sederhana yang menyediakan kebutuhan belajar yang dibuthkan membuat RBA saat ini beranggotakan sekitar 194 orang hingga kuartal 3 tahun 2018. Sungguh pencapaian yang luar biasa jika mengingat sebelumnya hanya sebagai komunitas diskusi skripsi saja.

Literasi dan Diseminasi Jadi Strategi Utama

Dalam proses pengembangannya, RBA menerapkan dua strategi utama guna melaksanakan program pemberdayaan masyarakat. Kedua strategi tersebut adalah literasi dan diseminasi.

“Hampir semua kegiatan di  RBA fokus kepada pengembangan literasi. Literasi sebagai kemampuan sebagai strategi. Yang mana RBA memperbanyak literasi kepada masyarakat,” terang Dika.

Liiterasi sendiri merupakan upaya berbagi pengetahuan atau keterampilan tertentu kepada masyarakat dengan kesempatan bagi masyarakat untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah disampaikan. Beberapa kegiatan literasi seperti lokakarya big book, lokakarya busy book, dan keahlian lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Serunya Taman Baca di Kota Batu, Mulai yang Agamis hingga Kekinian!

Adapun diseminasi sendiri berorientasi pada penyebarluasan pengetahuan di bidang tertentu lewat penjelasan dari para ahli yang kompeten di masing-masing bidangnya. RBA sendiri telah menginisiasi beberapa program seperti penyuluhan kerelawanan, penyuluhan kesehatan, hingga virtual sharing.

Kedua hal ini merupakan kunci dari berjalannya program-program RBA sebagai wadah belajar para pemuda. Melalui berbagai  giat yang dilakukan, pemuda dapat dengan mudah mempelajari dan menyebarluaskan pengetahuan yang didapatnya untuk menebar manfaat kepada masyarakat sekitar.


Karet Bungkus: Endra Kurniawan
Reporter: Endra Kurniawan
Penulis: Raka Iskandar
Editor: Raka Iskandar
Editor: Nanda Tri Pamungkas

Loading...