Apa Itu Hoaks dan Bagaimana Perkembangannya di Indonesia
Seputar asal usul hoaks dan perkembangannya di Indonesia @MalangTODAY.net/Nanda Tri Pamungkas

MALANGTODAY.NET – Belakangan, gara-gara kisah dramatis Ratna Sarumpaet, satu negara dibuat geger oleh cerita bohong yang ia karang demi mendapatkan simpati publik dan dalam konteks ini menjatuhkan lawan. Apa yang jelas-jelas hoaks dan merugikan begitu banyak pihak.

Lalu, apa sih sebenarnya hoaks itu?

Jika kita merunut pada KBBI, hoaks memiliki arti berita bohong. Hoaks adalah usaha untuk menipu atau mengakali komunikan untuk menggiringnya memercayai suatu pandangan atau hal. Dikatakan hoaks ketika sang penyebar berita atau informasi tersebut telah mengetahui soal apa yang dikatakannya adalah palsu, alias kebohongan belaka.

Dilansir dari beberapa sumber, pandangan psikologis menyebutkan faktor mengapa seseorang cenderung dapat percaya dengan kabar hoaks. Manusia cenderung lebih mudah menerima informasi apabila hal tersebut sesuai dengan opini atau pandangan personal masing-masing pribadi.

Perkembangan media sosial juga menjadi salah satu yang menginisiasi perkembangan hoaks menjadi begitu pesat. Kecepatan dan sifat media sosial lainnya membuat akurasi dan faktualnya data informasi menjadi semakin terkikis.

Berbicara soal sejarah dan asal usul hoaks yang sejatinya memang tak mudah untuk dilacak, ada cerita unik dari tokoh asal Amerika Serikat, Benjamin Franklin.

Baca Juga: Warga Kasin Budidaya Ikan di Sungai Keruh, Hasilnya Sungguh Tak Terduga!

Sekitar tahun 1745, Benjamin melalui harian Pennsylvania Gazette mengungkap adanya sebuah benda bernama Batu China yang dapat mengobati rabies, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya.

Karena berita itu disebarkan oleh Benjamin Franklin yang memang tersohor sebagai cendikiawan di berbagai bidang keilmuan, pihak medis tak melakukan verifikasi dan pengujian laboratorium dan sebagainya.

Ternyata, batu yang dimaksud hanyalah terbuat dari tanduk rusa biasa yang tak memiliki fungsi medis apapun. Namun, masyarakat luas bahkan medis terlanjur mempercayai informasi tersebut.

Dalam kaidah mis dan disinformasi, beberapa konten berpotensi kuat mengandung hoaks di dalamnya. Beberapa konten tersebut antara lain satir atau parodi, konten yang menyesatkan, konten tiruan, konten palus, keterkaitan yang salah, dan konten yang dimanipulasi.

Industri Hoaks

Di Indonesia sendiri, tak jelas kapan hoaks mulai dipraktekan. Beberapa media menyebut bahwa hoaks semakin populer ketika para elite dan kalangan atas di Indonesia mulai menggunakan hoaks sebagai senjata guna mencapai suatu tujuan.

Baca Juga: 4 Sungai Indah Alami Sumber Kebahagiaan Bangsa Indonesia

Apalagi pada ranah politik, hoaks tak bisa dipungkiri dimanfaatkan sebagai alat untuk menyebarkan black campaign. Kerja jurnalisme yang buruk semakin memperparah masifnya persebaran hoaks ini.

Kasus Ratna Sarumpaet misalnya. Sebagai anggota tim sukses salah satu calon yang betarung dalam perebutan kursi kepresidenan, Ratna Sarumpaet menyebarkan kabar bahwa dirinya baru saja dipukuli dan mengalami luka-luka memar di sekujur wajahnya.

Kubu mereka dengan cepat menggodok isu bahwa pihak lawan politiklah sebagai pihak yang harus mempertanggungjawabkan insiden tersebut.

Nyatanya, semua yang disebarkan oleh Ratna Sarumpaet hanyalah kepalsuan belaka. Foto-foto muka lebam Ratna Sarumpaet yang beredar viral di media sosial hanya merupakan akibat dirinya melakukan operasi plastik.

Selain menjadikan persaingan politik ini tak sehat, hoaks juga dapat menimbulkan kekeliruan pada persepsi publik dalam skala yang sangat luas.

Beberapa cara telah dilakukan oleh Kominfo, juga para pemilik platform media sosial untuk dapat menyortir informasi-informasi yang memuat konten kebohongan. Sangat merugikan memang karena saat ini hoaks juga semakin berkembang untuk digunakan sebagai alat penebar kebencian.

Baca Juga: Satoyama Initiative, Cara Jepang Seimbangkan Zaman yang Patut Ditiru

Verifikasi data merupakan kunci bagi setiap individu dalam menegtahui kebenaran suatu informasi. Kendati suatu informasi yang dipaparkan sesuai dengan opini dan pandangan masing-masing, namun cara paling bijak adalah melakukan riset keabsahan data sekaligus memaksa diri untuk mampu melihat suatu fenomena dari berbagai sudut pandang.

Semoga dengan perkembangan teknologi, dapat selaras dengan kemampuan individu untuk tidak memercayai hingga ikut mebnyebarkan informasi-informasi hoaks yang menyesatkan.


Karet Bungkus: Jazilatul Humda
Penulis: Swara Mardika
Editor: Swara Mardika
Ilustrator: Nanda Tri Pamungkas

Loading...