Beranda blog

Berkenalan dengan Penyebab dan Dampak Bullying dari Kaca Mata Praktisi

Ilustrasi penyebab dan dampak bully @MalangTODAY / Nanda Tri Pamungkas

MALANGTODAY.NET Sebagai fenomena sosial, bullying kerap terjadi di berbagai kalangan dan lingkungan, baik dilakuan secara sadar maupun tidak.

Menelusuri jejak bullying yang terjadi di Kota Malang, MalangTODAY.net berkesempatan mewawancarai dosen muda dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Retno Firdiyanti, S.Psi, M.Psi.

Disinggung mengenai pengertian dari kaca mata akademis, Retno menjelaskan bahwa secara simpel bullying merupakan tindak kekerasan yang dilakukan oleh satu kelompok terhadap kelompok lain. Bisa juga terjadi antara kelompok dengan individu, atau antar individu itu sendiri.

Meskipun bersifat tindak kekerasan, namun Retno menjelaskan bahwa ada tiga kategori yang perlu ada ketika seseorang dianggap sebagai korban.

Baca Juga: Mengenal Cyberbullying, Intimidasi Dunia Maya yang Begitu Mengerikan

Menurut Retno, ada tiga aspek syarat suatu tindakan telah masuk ranah bullying, yaitu:

  1. Ketidakseimbangan power antara korban dan pelaku. Kalau ada dua orang yg memiliki power sama, lalu salah satu mengejek untuk bercanda, itu belum termasuk bullying. Yang disebut power sama itu, kaitannya dengan self esteem.
  2. Ada perilaku kekerasan, bisa verbal maupun non verbal. Kalau verbal contohnya mengejek, mengolok-olok, berkata kasar, mengejek nama orangtua.

Kalau non verbal, bisa dengan mengucilkan, menjauhi dengan sengaja, mengintimidasi, mendorong, ada lagi bullying fisik yg bentuknya sampai perilaku kekerasan seperti memukul dan lain-lain.

  1. Dilakukan secara berulang-ulang. Jadi dalam jangka waktu yang lama. Jadi kalau hanya sekali mengejek, misalnya dalam kurun waktu satu bulan, hanya dua kali mengejek, berarti itu bukan bullying. Bisa jadi itu hanya agresifitas seseorang.

Lebih lanjut Retno juga memaparkan bahwa kasus-kasus bullying lebih sering terjadi di kalangan remaja. Hal tersebut bisa terjadi karena ketimpangan power atau self-esteem sangat rentan terjadi di kalangan usia ini.

“Yang biasa terjadi di kalangan remaja; karena self-esteem yang rendah. Penyebab bisa kita kaji dari kenapa self-esteem seorang korban bullying itu bisa terbentuk sedemikian rupa sehingga dia menjadi seorang korban.

“Bisa jadi dari pola asuh keluarga, bisa juga karena pertumbuhan kepribadian yang kurang optimal,” terang dosen yang juga melayani konsutasi di Pusat Layanan Psikologi Fakultas Psikologi UMM ini.

Tak lupa wanita berusia 29 tahun tersebut juga menjelaskan bahwa dampak paling parah yang dapat dialami oleh korban bullying adalah bunuh diri. Tidak hanya pada korban, dampak dari perilaku bullying ternyata juga bisa menyasar ke pelakunya.

“Karena self-esteem yang rendah, dia (korban) merasa tidak punya nilai, merasa kasihan terhadap diri sendiri dan tidak bisa meminta orang lain untuk menolong dia. Kalau dari hasil penelitian, bullying bisa sampai menyebabkan kematian.

Baca Juga: Jackie Chan hingga Lady Gaga, 8 Artis Internasional Ini Pernah Jadi Korban Bully

“Dampak dari segi pelaku, kalau dibiarkan dia (pelaku) bisa jadi kriminal. Self-esteem yang terlalu tinggi akan membuat dia menilai orang lain lebih rendah. Bisa jadi tidak bisa mengontrol emosi, tidak bisa mengontrol diri,” kata Retno menambahkan.

Efek domino yang lebih parah dari fenomena ini adalah, bukan tidak mungkin bahwa korban bisa bertransformasi menjadi pelaku di masa yang akan datang.

Pemberontakan seorang korban bully tak jarang yang berakhir dengan dirinya merasa butuh membalaskan dendam dan menjadi seorang pelaku bully ketika telah mendapatkan self-esteem-nya sendiri.


Karet Bungkus: Ilham Musyafa
Ilustrator: Nanda Tri Pamungkas
Reporter: Rosita Shahnaz
Penulis: Kidung Swaramardika
Editor: Ilham Musyafa

Aneh tapi Logis! 5 Pekerjaan Aneh Ini Diprediksi Muncul Tahun 2030

Seseorang menggunakan teknologi hologram
Seseorang menggunakan teknologi hologram @ phys

MALANGTODAY.NET Pekerjaan generasi millenial seperti sekarang sangatlah beragam. Kalau dulu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi dambaan, sekarang belum tentu. Meskipun lowongan CPNS masih banyak diburu, namun banyak pekerjaan lain yang menjadi idaman anak muda saat ini.

Berbeda dengan dulu, sekarang variasi pekerjaan sangatlah banyak. Seperti vloggerbloggeryoutuber, dan lain sebagainya. Pernahkan kamu membayangkan seperti apa pekerjaan belasan tahun lagi atau sekitar tahun 2030?

Melalui laman business insider, seorang CEO Littlebits, perusahaan rumahan ternama di Amerika Serikat, Ayah Bdeir percaya bahwa akan ada 65% jenis pekerjaan baru di tahun 2030. Sehingga masyarakat perlu mempelajari berbagai keterampilan agar tetap dapat beradaptasi.

Baca Juga: Dinilai Tak Mendidik, Risma Diminta Batalkan Perubahan 2 Nama Jalan Ini

Apa saja itu? Berikut lima pekerjaan yang menurut Bdeir akan muncul di tahun 2030.

1. Robot dokter hewan (Robotics Veterinarian)

Robot merupakan salah satu inovasi yang terus berkembang kecanggihannya. Bentuknya pun beragam mulai dari makhluk hidup hingga karakter tertentu. Bahkan bukan hal mustahil bila nantinya akan ada robot yang bisa menggantikan manusia.

Bdeir percaya akan ada sebuah akan ada nantinya robot yang akan membantu hewan untuk dapat memiliki kaki palsu atau penyakit lainnya.

2. Perancang game perilaku (Behavioral Game Designer)

Dalam beberapa dekade mendatang, Bdeir menduga dunia gaming akan menjadi lebih bermanfaat dalam membantu orang menghilangkan stres dan menjadi sehat.

Contohnya yang pernah hits pada saat itu ialah Pokémon Go. Yang mana game tersebut membantu seseorang untuk lebih banyak bergerak. Programer akan membuat aplikasi pintar dan produk yang menjadikan hidup sehat sebagai pilihan yang paling menarik.

Singkatnya, perancang game perilaku merupakan pekerjaan di mana seseorang nantinya akan membuat permainan-permainan yang bisa membuat pemainnya lebih atraktif.

3. Spesialis holoportasi (Holoportation Specialist)

Jika saat ini kita mengenal video call mungkin komunikasi di tahun 2030 akan ada namanya holoportasi. Dengan kata lain, holoportasi merupakan pergabungan antara hologram dan teleportasi. Di mana tubuhmu akan berada di tempat lain secara bersamaan namun dalam bentuk hologram.

Bdeir mengatakan pekerjaan seorang spesialis holoportasi ialah memastikan kesuksesan virtual seseorang ke lokasi lain berjalan mulus. Beberapa perusahaan teknologi telah mulai mencoba membuat teknologi ini, salah satunya Microsoft.

4. Teknisi Iklim (Climate Engineer)

Kita mungkin berfikir bahwa membalikkan efek pemanasan perubahan iklim itu hal yang mustahil. Tetapi teknologi masa depan memungkinkan kita memanipulasi iklim sampai batas tertentu.

Bdeir percaya bahwa geoengineering dapat mengurangi kerusakan terkait perubahan iklim. Caranyan dengan membawa lautan yang terpolusi karbon kembali ke kondisi kesehatan yang baik dan menggunakan teknologi seperti pohon buatan untuk menyedot karbon di atmosfer.

Kalau di Indonesia sih udah sejak dulu ya Zens. Yup, betul sekali pawang hujan!

Baca Juga: Kenapa Orang Bali Bernama Made, Wayan, Ketut? Ini Alasannya

5. Petani atau pembuat organ buatan (Artificial Organ Farmer)

Beberapa penyakit memerlukan bantuan donor organ untuk dapat melengkapi bagian tubuhnya yang terjangkit penyakit. Dengana adanya organ buatan, dokter gak lagi repot-repot cari alternatif.

Bukan hal yang mustahil kalau dokter nantinya bisa menumbuhkan hati atau jantung yang diperlukan untuk membuat pasien kembali sehat.

Bdeir mengatakan perlu insentif yang lebih besar untuk belajar tentang hubungan antara biologi dan teknologi. Caranya bisa dengan menumbuhkan sel punca di laboratorium atau mencetak hati mekanis dengan printer 3D.

Entah bagaimana hal-hal tersebut akan terjadi, namun kita juga belum ada yang tau kedepannya bakal seperti apa.


Penulis: Ilham Musyafa
Editor: Ilham Musyafa

Diduga Nyalakan Flare, Suporter ini Ditampar Gubernur Sumut

Edy rahmayadi Tampar Suporter yang Diduga Nayalakan Flare
Edy Rahmayadi @Bola.net

MALANGTODAY.NET – Ketua PSSI sekaligus Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi dikecam banyak warganet usai video dirinya menampar seorang suporter di tengah keramaian tribun menyebar luas. Video tersebut direkam di Stadion Teladan Medan saat PSMS Medan bertanding melawan Persela Lamongan Jumat (21/9/2018) kemarin.

Dalam beberapa video yang beredar, dengan dikawal beberapa petugas, Edy terlihat marah di tengah keramaian suporter. Ia bahkan menampar seorang pemuda yang diduga menyalakan flare di tengah jalannya pertandingan.

Baca Juga: Gunakan Uang Kertas, Komplotan Gendam di Singosari Diringkus Polisi

Insiden ini terjadi pada babak kedua pertandingan. Saat itu sang tuan rumah tertinggal 1-2 dari persela lamongan. Edy pun mendapat kecaman usai video tersebut beredar.

Mengutip Bola.net, pada Sabtu (22/9/2018), Sekertaris PSMS Medan, Julius Raja membenarkan tutrunnya Edy dari kursi VIP ke tribun penonton. Namun ia menyangkal suar atau flare telah menyala saat Edy datang. Dari video yang beredarpun, tidak nampak adanya flare yang menyala saat Edy datangi tribun.

“Iya, benar. Dari babak kedua. Untuk menertibkan suporter. Sedikit (menyalakan flare), tidak sampai, baru mau menyalakan flare, mau dimulai, itulah takut, dia turun langsung begitu. Suasana langsung kondusif. Sampai pertandingan selesai (Edy) di tribun suporter,” ujar Julius, dikutip dari Bola.net.

Lebih lanjut, Julius juga menjelaskan bahwa Edy turun untuk mencabut spanduk kecil yang memprotes pengurus PSMS. Ia juga menyangkal adanya perlakuan kasar dri Edy pada para suporter.

Baca Juga: Sekolah Rentan Bullying, Kenali Jenis dan Solusi Penanganannya

“Ya, jelas banyak saksi di sana. Itu orang tidak senang dengan dia saja yang viralkan itu. Justru orang itu yang tidak manusiawi kok sembarangan nulis begitu,” tambahnya.

Meski sempat tertinggal 2-1, laga tersebut akhirnya dimenangkan oleh PSMS Medan dengan skor akhir 3-2.


Penulis : Kistin Septiyani
Editor : Kistin Septiyani

Gunakan Uang Kertas, Komplotan Gendam di Singosari Diringkus Polisi

Gunakan Uang Kertas, Komplotan Gendam di Singosari Diringkus Polisi
Kedua pelaku gendam saat dimintai keterangan di Polsek Singosari@Dhimas Fikri/MlangTODAY

MALANGTODAY.NET – Angka kasus penipuan dengan modus gendam di wilayah hukum Polres Malang cukup tinggi. Pada Operasi Sikat Semeru 2018 yang baru saja berakhir, Polres Malang mengungkap 21 kasus gendam.

Salah satu kasus gendam yang berhasil diungkap yaitu yang terjadi di Kecamatan Singosari. Petugas Polsek Singosari meringkus dua pelaku gendam, Mukhlis warga Kabupaten Banyuwangi dan Nur Rohim warga Kabupaten Lumajang.

Baca Juga: Aksi Debt Collector Kelewat Batas? Ini Imbauan Kepolisian

Kedua pelaku diamankan setelah memperdayai korban, Mustofa (49) warga Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Pelaku diamankan di Jalan Raya Karanglo, Kamis (13/9/2018) sekitar pukul 17.00 WIB.

Kanit Reskrim Polsek Singosari, Iptu Supriyono menjelaskan bahwa dua pelaku yang diamankan tersebut memiliki komplotan. Komplotan pelaku gendam itu membagi peran secara rapi saat beraksi.

“Ini sebuah jaringan kalau dari hasil penyelidikan, jadi ada yang mempengaruhi, kemudian ada perantaranya, kemudian ada eksekusinya. Jadi berawal dua orang ini mencari sasaran yang tujuannya mencari bisnis yang mungkin bisa berlipat ganda,” ujar Supriyono dalam rilis di Mapolsek Singosari, Sabtu (22/9/2018).

Baca Juga: Aksi Debt Collector Kelewat Batas? Ini Imbauan Kepolisian

Selanjutnya, kedua pelaku tersebut akhirnya bertemu korban Mustofa. Pelaku pun mengiming-imingi korban dengan tawaran bisnis yang bisa menghasilkan uang berlipat ganda.

“Korban sampai mengambil uang di bank pada saat itu, hari itu juga. Kemudian diserahkan senilai 300 juta, transaksi di Karanglo. Pada saat menyerahkan 300 juta itu dijanjikan menjadi 1 miliar,” terangnya.

Uang 1 miliar yang dijanjikan pelaku itupun langsung diserahkan pada korban. Namun terkejutnya korban saat uang yang diserahkan pelaku hanya berisi kertas, dengan uang asli hanya sebesar Rp 100 ribu dalam bentuk pecahan Rp 50 ribu.

Baca Juga: Revitalisasi, Solusi Hidupkan Kembali TIC Kota Malang

“Ternyata saat dibuka di dalam mobil itu hanya potongan kertas. Setelah sadar akhirnya korban melaporkan kejadian itu ke Polsek Singosari,” jelasnya.

Kedua pelaku sendiri diamankan sebelum berhasil kabur dari wilayah Singosari. Akibat perbuatannya itu, kedua pelaku akan dijerat Pasal 378 tentang penipuan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.


Reporter: Dhimas Fikri
Editor: Endra Kurniawan

Sekolah Rentan Bullying, Kenali Jenis dan Solusi Penanganannya

Sekolah Rentan Bullying, Kenali Jenis dan Solusi Penanganannya
Bullying di lingkungan pendidikan @Nanda/MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Bullying menjadi problema yang kerap mengiringi laju pendidikan di Indonesia. Tercatat lewat data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA), 8 dari 10 siswa sekolah terlibat dalam bullying di lingkungan pendidikan.

Psikolog Andrew Mellor meninjau bullying sebagai perilaku yang muncul karena adanya kesenjangan kekuatan yang diikuti pola repetisi. Beberapa jenis bullying yang kerap terjadi di lingkungan pendidikan yaitu bullying fisik (memukul, melukai, merusak benda korban), bullying verbal (mengejek, member julukan buruk, meneror, memberi pernyataan seksual, memfitnah), bullying relasi sosial (pengucilan, menghasut, menebar rumor, menghancurkan reputasi), dan bullying elektronik (cyberbully).

Baca Juga: Angka Bullying di Lingkungan Pendidikan Mencengangkan!

Dampak Bullying dalam Lingkungan Pendidikan

Bullying jadi hal yang berbahaya dan patut diwaspadai karena membahayakan banyak pihak, baik korban, pelaku, hingga saksi sekalipun. berdasarkan riset yang dilakukan oleh Victorian Department of Education and Early Childhood Development, ada bahaya yang mengintai ketiga pihak karena bullying. Resiko yang akan dialami oleh pelaku adalah akan tumbuh kecenderungan untuk berperilaku agresif dan terllibat dengan jenjang kenakalan yang lebih tinggi di usia remaja nanti.

Adapun resiko yang diterima korban adalah rendahnya kecerdasan emosi yang menimbulkan ketakutan untuk melakukan banyak hal yang mengembangkan potensi diri. Perilaku ini dapat berujung pada kebenciannya pada sekolah. Sedangkan saksi akan mengalami tekanan psikologi berat karena akan selalu merasa waspada, takut, dan berpikir keras agar tidak menjadi target bullying selanjutnya.

Baca Juga: Pernah Alami Bullying, 2 Public Figure Malang Ini Beber Pengalaman dan Tips Hadapi Bullying

Dalam menangani bullying, menghukum pelajar bukanlah langkah yang cukup untuk menghentikan arus bullying. Hukuman tidak menyelesaikan urusan, malah justru menambah masalah baru. Pelaku bullying akan mengalami ketidakstabilan emosi karena perangainya yang agresif. Sebagai institusi pendidikan, seharusnya sekolah melakukan langkah bijaksana. Hal yang sama berlaku pada korban dan saksi.

Pentingnya Komunikasi

Dilansir dari Geotimes.co.id, penyeleseaian pada kasus bullying bisa dimulai dengan membangun komunikasi yang efektif dan terbuka antara guru, murid, dan orang tua murid. Orang tua seharusnya berpartisipasi dalam proses pendidikan anaknya di sekolah. Banyak orang tua yang cenderung abai dan menyerahkan begitu saja persoalan pendidikan sekolah pada gurunya. Padahal, pengawasan orang tua juga penting untuk menjaga komunikasi yang konsisten.

Baca Juga: Mengenal Cyberbullying, Intimidasi Dunia Maya yang Begitu Mengerikan

Terlebih pada pelaku bullying, hukuman bukanlah langkah konkrit untuk menghentikan bullying. Biasakan untuk senantiasa menangani dan berkomunikasi satu sama lain serta bertukar pikiran antara orang tua – anak, orang tua – guru, dan guru – siswa.

Inti dari penanganan bullying adalah bagaimana mengajarkan pada anak keterampilan sosial dan interaksi yang baik satu sama lain, saling menghargai agar membentuk jiwa produktif dan bijak dalam menanggapi bullying.


Karet Bungkus : Ilham Musyafa
Penulis : Raka Iskandar
Editor : Raka Iskandar
Ilustrator : Nanda Tri Pamungkas

Atasi Bully Sejak Dini Mulai dari Pendidikan Sekolah Dasar

MALANGTODAY.NET Meskipun kental terjadi di lingkungan remaja, namun ternyata tak sedikit juga kasus bullying yang terjadi di ranah sekolah dasar. Salah seorang guru di SD Muhammadiyah 09 Malang, Dhika Dwi Janiati S.Psi menjelaskan bahwa tiap satu sehari sekali selalu ada seorang anak yang lapor akibat menjadi korban bullying secara verbal.

Rata-rata korban yang melaporkan kejadian bullying adalah murid kelas 3 ke bawah. Biasanya laporan akan datang dari guru kelas atau orang tua murid. Untuk rentang usia tersebut, memang sang anak masih belum bisa menentukan apakah peristiwa yang dialami termasuk tindakan bullying atau bukan.

Baca Juga: Mengenal Cyberbullying, Intimidasi Dunia Maya yang Begitu Mengerikan

“Rata-rata memang dari anak kelas 3 ke bawah. Laporan datang dari guru kelas atau orang tua karena dari anaknya sendiri masih belum bisa menyampaikan; ini tindakan bully atau bukan,” kata Dhika.

Untuk penanganan terhadap kasus bully sendiri, Dhika menyesuaikan kondisi dan kelompok umur para siswa. Mulai dari kelas 4 ke atas dianggap sudah mulai mengerti tentang mana tindakan yang tergolong menyakiti perasaan korban dan mana yang bukan.

Maka dari itu, menurut Dhika akan dilakukan penanganan cukup tegas bagi kelompok siswa kelas 4 ke atas. Peringatan tersebut dapat berupa peringatan hingga konsekuensi yang harus ditanggung murid terkait hingga merasa jera.

Lebih lanjut Dhika mengatakan bahwa bentuk bully verbal adalah yang paling sering terjadi di lingkungan sekolah dasar. Menurut Dhika, menangani kasus ini harus dilakukan secara komprehensif. Tidak bisa hanya memutus rantai dengan memperhatikan korban. Pelaku pun perlu mendapatkan perhatian yang khusus.

Peran orang tua juga diperlukan dalam membantu guru dalam meminimalisir peristiwa bullying ini. Ketidakhadiran peran orang tua dalam mendidik perilaku murid di sekolah hanya membuat problematika tersebut semakin sukar untuk diminimalisir.

Baca Juga: Jackie Chan hingga Lady Gaga, 8 Artis Internasional Ini Pernah Jadi Korban Bully

“Ada orang tua yang mikir ‘anak saya sudah saya pasrahkan ke sini, ya sudah’, juga ada yang menganggap anak mereka selalu benar, ada juga yang menganggap anak mereka di-bully terus. Nah, kalau merasa sering di-bully tapi anak itu gak berusaha membela diri tapi sering lapor orang tua, ya susah,” beber Dhika.

Dhika menekankan bahwa untuk menghindari peristiwa bullying, perlu diajarkan edukasi mental supaya para murid tidak merasa terlalu sensitif dan lebih percaya diri.

“Di sini kami memupuk positif psikologi. Kami menerapkan ini karena memang bisa ngerem mulut, ya. Alhamdulilah sejauh ini sudah ada perubahan,” pungkas Dhika.

Karet Bungkus: Ilham Musyafa
Ilustrator: Nanda Tri Pamungkas
Reporter: Dwi Setiyani
Penulis: Swara MArdika
Editor: Ilham Musyafa

Aksi Debt Collector Kelewat Batas? Ini Imbauan Kepolisian

Kedua pelaku debt collector saat dimintai keterangan di Polsek Singosari@Dhimas Fikri/MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Masih maraknya aksi debt collector yang melewati batas seperti mengancam bahkan melakukan tindak kekerasan kepada masyarakat membuat petugas kepolisian memberikan perhatian tersendiri.

“Jadi tugasnya debt collector ini melototi kendaraan-kendaraan yang ada di jalan raya kemudian dia menggunakan sarana komunikasi HP, yang terhubung dengan finance, jadi apabila ada kendaraan yang macet kredit baru dia kerjar,” kata Kanit Reskrim Polsek Singosari, Iptu Supriyono, Sabtu (22/9/2018).

Baca Juga: Caleg Perindo Dapil Malang Raya Ini Soroti Soal Beras Impor

Pihak kepolisian juga mengimbau pada para debt collector tidak melakukan aksi-aksi yang membuat resah masyarakat. Seperti halnya dengan menarik paksa sepeda motor di jalan raya.

“Kami imbau pada debt collector apabila melakukan penarikan atau segala macam saya harapkan jangan di jalan raya. Jadi kewenangannya untuk di jalan raya ini, sampai saat ini Undang-undangnya yang mengatur adalah pihak kepolisian,” ujar Supriyono.

Supriyono juga menjelaskan, seharusnya para debt collector yang melakukan penindakan di jalan raya harus ada koordinasi dengan pihak kepolisian. Hal itu juga telah tertuang dalam perjanjian beberapa waktu lalu.

“Jadi mungkin bisa berkoordinasi, itu sudah ada MoU antara finance kemudian dengan pihak kepolisian, apabila ada kendaraan yang dalam istilahnya dijabel harus komunikasi atau koordinasi dengan kepolisian. Jadi yang berhak menghentikan di jalan raya adalah petugas kepolisian,” tegasnya.

Baca Juga: Selamat Hari Bebas Kendaraan Bermotor, Untuk Bumi yang Lebih Baik

Lebih lanjut, jika ingin melakukan penindakan di jalan selain harus ada koordinasi dengan kepolisian, debt collector juga harus mengantongi sertifikat fedusia atau perjanjian hutang piutang kreditor kepada debitor yang melibatkan penjaminan.

“Juga harus dilengkapi fedusia, kemudian apabila ada penetapan penyitaan atau segala macam itu harus dari Pengadilan Negeri, kalau tidak ya bisa melanggar tindak pidana perampasan dengan ancaman dalam Pasal 368 KHUP dengan ancaman hukuman 9 tahun,” terang Supriyono.


Reporter: Dhimas Fikri
Editor: Endra Kurniawan

Revitalisasi, Solusi Hidupkan Kembali TIC Kota Malang

Revitalisasi, Solusi Hidupkan Kembali TIC Kota Malang
TIC milik Pemkot Malang @Rosita

MALANGTODAY.NET – Pusat informasi bagi wisatawan atau sering disebut Tourist Informasi Center (TIC) yang berada di Kota Malang, perlu dihidupkan kembali sebagai sarana promosi kepada wisatawan, baik itu wisatawan mancanegara (wisman) maupun nusantara (wisnus).

Seperti yang diketahui, wisata sejarah yang merupakan andalan pariwisata Kota Malang, tidak pernah berhenti menarik perhatian wisatawan mancanegara untuk berkunjung.

Baca Juga: Caleg Perindo Dapil Malang Raya Ini Soroti Soal Beras Impor

“TIC milik Pemkot di Alun-alun itu fungsinya ada, kegiatannya ada, namun kalau kita lihat sarana prasarananya tidak memungkinkan,” ujar Kepala Seksi Pemasaran Pariwisata Disbudpar Kota Malang, R. Agung Harjaya, di kantor Disbudpar Kota Malang beberapa waktu lalu.

Perlu diketahui bahwa Kota Malang memiliki beberapa TIC yang dikelola oleh Pemkot maupun swasta. Beberapa di ntaranya yakni di Kantor Disparbud Kota Malang, Alun-alun, Kayutangan, Sarinah, Stasiun Malang Kotabaru dan Bandara Abdul Rachman Saleh.

“Lokasinya yang di Alun-alun, di seberang Ramayana itu terlalu sempit, ukurannya 1 x 1 meter,” ucapnya.

Lebih lanjut terkait TIC yang dikelola oleh pihak Pemkot Malang, Agung mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan ke Wali Kota terpilih agar dapat memberikan tempat yang lebih layak dan pihak terkait dapat membantu merevitalisasi bangunan.

Baca Juga: Bawa Lencana Polisi, Ini Modus Debt Collector yang Diamankan di Singosari

Agung berharap, lokasi TIC nantinya bisa tidak jauh-jauh dari lokasi yang dilewati wisatawan, misalnya Jl. Majapahit.

“Kita mengharapkan supaya kedepan itu Pemkot bisa memberikan tempat yg lebih representatif, karena TIC adalah ujung tombak kita dalam memasarkan pariwisata,” pungkasnya.


Reporter : Rosita Shahnaz
Editor : Kistin Septiyani

5 Kue Ini Sudah Eksis Sebelum ‘Dijajah’ Artis, Ada Kue Khas Bali Juga!

Pie susu khas Bali Instagram
Pie susu khas Bali @ Instagram / cistin.foodandpie

MALANGTODAY.NET Kue yang dicetus oleh artis-artis Indonesia kini merajalela di kota-kota besar Indonesia. Saking suksesnya kue artis yang katanya kekinian ini sampai menjadi ikon oleh-oleh dari kota tersebut. Bahkan bisa sampai hampir menggerus eksisnya kue-kue tradisional khas daerah tersebut.

Sebelum kehadiran kue artis, sebenarnya sudah banyak kok merek kue tradisional yang menjadi favorit wisatawan yang gak kalah enaknya. Mau tau apa aja? ini dia selengkapnya Zens!

Baca Juga: Kenapa Orang Bali Bernama Made, Wayan, Ketut? Ini Alasannya

1. Bolu dan Bika Ambon, Medan

Bolu meranti khas medan
Bolu meranti khas medan @ Instagram / Jogjaeat

Menyebut Medan, pasti langsung teringang dua oleh-oleh ikonik yaitu Bolu Meranti dan bika ambon. Bolu Meranti dibuat oleh Nyonya Ai Ling yang hobi membuat kue.

Lewat situs resmi Bolu Meranti, disebutkan jika sebenarnya Ai Ling awalnya gak punya toko. Terkadang ia menitip bolu gulung jualannya ke rumah tantenya yang berada di Jalan Meranti. Dari sanalah merek nama Bolu Meranti muncul.

Selain Bolu Meranti, Medan juga terkenal dengan bika ambon. Gak susah kok carinya, karena ada puluhan gerai bika ambon yang tersebar di Medan.

2. Bollen dan Brownies, Bandung

Bolen khas bandung @ Instagram / luckya_saadah

Gak lengkap rasanya kalau gak beli kue bollen pas lagi ke Bandung. Bollen merupakan jenis kue pastry yang diisi dengan pisang dan tambahan lain seperti keju atau cokelat. Salah satu pelopor bollen di Bandung adalah Ibu Ratnawati. Awalnya ia hobi mengulik resep kue dan roti dari zaman Belanda yang diwariskan keluarganya.

Menerima pesanan dari mulut ke mulut, akhirnya Ibu Ratnawati membuka toko Kartika Sari pada 1974. Sampai saat ini Bandung identik dengan bollen. Banyaknya pembeli kue yang berkunjung ke Bandung, akhirnya membuka peluang bagi toko kue lain.

3. Bakpia, Yogyakarta

Bakpia khas yogyakarta
Bakpia khas yogyakarta @ Instagram / kulinermamakece

Kue pia dengan isian kacang hijau ini identik dengan Yogyakarta. Lewat situs resmi Bakpia 25, disebutkan sebenarnya Kampung Pathok, Yogyakarta mulai memproduksi bakpia pada 1948. Saat itu masih dijual kemasan besek tanpa merek.

Baca Juga: Intip Kegiatan Harian Melania Trump, Istri Orang Nomor Satu di AS

Baru pada 1980 Bakpia Pathok diberi merek sesuai nomor rumah produksi bakpia, yakni 25. Diikuti oleh berbagai nomor rumah produksi bakpia lain yang menjadi merek. Perebedaan bakpia Yogyakarta dulu dan sekarang adalah proses pembuatannya, jika dulu menggunakan oven bahan bakar arang, kini dengan oven gas.

4. Pie Susu dan Pia, Bali

Pie susu khas Bali Instagram
Pie susu khas Bali @ Instagram / cistin.foodandpie

Selanjutnya ada kue khas bali, ada banyak merek Pie Susu yang beredar di Bali. Tetapi merek yang paling terkenal adalah “Pie Susu Asli Enaaak” yang sudah ada sejak tahun 1989. Berbeda dengan merek pie susu lain yang mudah dicari di tokoh oleh-oleh, Pie Susu Asli Enaaak bisa dibilang langka Zens.

Cara mendapatkan kue khas bali ini harus memesan via telepon terlebih dahulu, baru mengambil di toko pusat langsung atau di toko cabang. Oleh-oleh ikonik lain dari Bali adalah Pia Legong yang dijual sejak 2006.

Baca Juga: Dinilai Tak Mendidik, Risma Diminta Batalkan Perubahan 2 Nama Jalan Ini

Sama seperti Pie Susu Asli Enaak, perlu memesan terlebih dahulu atau datang langsung ke toko Pia Legong. Di toko juga tak ada display pia, karena Pia Legong menyebut semua kue khas bali yang dijual masih hangat dari oven pemanggang.

5. Roti Abon Gulung, Papua

Kue abon gulung khas papua Instagram
Kue abon gulung khas papua @ Instagram / sasmitaedo

Hawai Bakery dari Manokwari, Papua Barat menjadi pelopor roti abon gulung. Inilah oleh-oleh yang banyak diburu oleh wisataan yang berkunjung ke Papua Barat. Tenarnya roti abon gulu di tanah Papua membuat binis Hawai Bakery menyebar sampai Jayapura, Timika, Sorong, Merauke, dan Biak.


Penulis: Ilham Musyafa
Editor: Ilham Musyafa

Caleg Perindo Dapil Malang Raya Ini Soroti Soal Beras Impor

Caleg Perindo Dapil Malang Raya Ini Soroti Soal Beras Impor
Caleg DPR RI Partai Perindo Dapil V Malang Raya, Christoporus Taufik @Istimewa

MALANGTODAY.NET – Caleg DPR RI Partai Perindo Dapil V Malang Raya, Christophorus Taufik, memberikan komentar terkait polemik impor beras dan perselisihan antara Bulog dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

“Soal ribut Kemendag dan Bulog, harusnya sepanjang Bulog bisa menjamin persediaan beras maka Kemendag lebih baik stop impor beras,” ujar Christophorus.

Baca Juga: Bawa Lencana Polisi, Ini Modus Debt Collector yang Diamankan di Singosari

Ketua DPP Bidang Hukum Partai Perindo ini, juga mengatakan bahwa menurut data, stok beras dalam negeri masih cukup.

“Di Kabupaten Malang saja, pada tahun 2017 itu kita surplus beras,” tandas pria asli Malang tersebut.

Chris juga menyampaikan bahwa saat itu, dengan luas lahan 46 ribu hektare, petani lokal dapat memproduksi beras sampai 310 ribu ton.

Seperti diketahui, perbedaan pendapat antara Bulog dan Kemendag saat ini tengah bergulir panas. Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, tetap bersikukuh untuk melakukan impor beras. Keputusan tersebut, kata dia, dikeluarkan melalui rapat koordinasi terbatas oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Bulog dan perwakilan BUMN serta pihaknya.

Sementara itu, Dirut Bulog, Budi Waseso (Buwas) menegaskan tidak perlu adanya impor beras. Mantan pimpinan Badan Narkotika Nasional atau BNN ini, memastikan tidak akan ada impor beras hingga akhir 2018 karena stok beras dalam negeri lebih dari cukup. Bahkan, tegas dia, stok beras di gudang bulog masih ada 2,4 juta ton dan sudah tidak memungkinkan menampung beras impor.

Pernyataan Buwas ini, ditanggapi Enggar dengan menyebut bahwa Bulog telah dua kali meminta perpanjangan impor beras dengan surat terakhir tertanggal 24 Agustus 2018. Selain itu, juga ada permohonan perpanjangan persetujuan impor sebesar 1juta ton sampai 31 Oktober 2018.

Permasalahan tak kunjung usai dan banyak menyita perhatian publik, membuat DPR RI juga mulai gerah. Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasludin, akan segera memanggil pihak-pihak terkait untuk meminta penjelasan terkait polemik ini. Menanggapi hal ini, Buwas menolak untuk hadir.

Baca Juga: Angka Bullying di Lingkungan Pendidikan Mencengangkan!

Terkait hal ini, Christophorus Taufik mengungkapkan bahwa seharusnya harus dilihat terlebih dahulu data yang ada dengan cermat, agar tidak ada kesalahpahaman berlarut-larut.

“Kalau seperti ini yang dirugikan nantinya petani, impor beras tidak perlu jika memang stok beras lokal masih sangat cukup, Kemendag harus mempertimbangkan kembali,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Direktur PT Global Mediacom ini.


Reporter : Dwi Setyani
Editor : Kistin Septiyani

Bawa Lencana Polisi, Ini Modus Debt Collector yang Diamankan di Singosari

Bawa Lencana Polisi, Ini Modus Debt Collector yang Diamankan di Singosari
Kedua pelaku debt collector saat dimintai keterangan di Polsek Singosari@Dhimas Fikri/MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Dua orang debt collector yang diamankan Unit Reskrim Polsek Singosari ternyata selama ini menggunakan lencana polisi untuk memuluskan aksinya.

Menurut keterangan kedua pelaku, Y (43) warga Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan dan A (43) warga Desa Pakisjajar, Kabupaten Malang, lencana tersebut memang milik rekannya yang bertugas sebagai anggota kepolisian. Namun, keterangan pelaku tersebut masih dipertanyakan kebenarannya.

Baca Juga: Tarik Paksa Motor Warga, 2 Debt Collector Diamankan Polsek Singosari

“Dari hasil pemeriksaan, yang bersangkutan mengambil, jadi tidak bisa dipertanggung jawabkan juga katanya milik teman di petugas kepolisian tapi tidak bisa menyebut nama dan alamatnya. Tapi bisa juga dia membeli di toko-toko peralatan kepolisian,” kata Kanit Reskrim Polsek Singosari, Iptu Supriyono dalam rilis di Mapolsek Singosari, Sabtu (22/9/2018).

Supriyono menambahkan, lencana polisi itu memang digunakan para pelaku untuk melakukan penarikan sepeda motor kepada warga yang menunggak pembayaran selama berbulan-bulan. Namun, hal itu tidak dibenarkan memiliki lencana polisi karena debt collector bukanlah anggota kepolisian.

“Dari hasil pemeriksaan, biar mempermudah untuk segala macam dengan menunjukkan lencana tersebut agar korban atau orang lain ini percaya kalau dia ini polisi, namun kenyataannya dia hanya debt collector,” terangnya.

Lebih jauh, pelaku Y dan A mengaku sudah bekerja sebagai debt collector selama 2 sampai 3 tahun. Selama ini, mereka mendapat komisi sebesar Rp 1,1 juta setiap kali dapat menarik motor dari warga yang menunggak pembayaran.

Baca Juga: Iqbaal Ramadhan Unggah Foto Cumbui Kekasih di IG, Netizen Cewek Patah Hati

Kini, karir kedua pelaku itu harus berakhir dibalik jeruji besi Polsek Singosari. Mereka akan dijerat Pasal 368 KUHP tentang pemerasan disertai ancaman, dengan ancaman hukuman 9 tahun.

Sebelumnya, anggota Unit Polsek Singosari mengamankan dua orang debt collector yang telah meresahkan masyarakat. Mereka diamankan setelah beraksi di Jalan Raya Karanglo depan kawasan Ruko Mondoroko Selatan, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Rabu (16/9/2018).


Reporter: Dhimas Fikri
Editor: Endra Kurniawan

Angka Bullying di Lingkungan Pendidikan Mencengangkan!

Angka Bullying di Lingkungan Pendidikan Mencengangkan!
Ilustrasi angka bullying di Indonesia @Nanda/MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Jumlah kasus kekerasan dalam pendidikan menjadi sorotan banyak pihak. Hal ini mendapatkan sorotan khusus dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada perayaan Hari Anak Nasional (23/7/2018) kemarin.

Dilansir dari Tempo.co, KPAI mencatat kasus pendidikan di tahun 2018 hingga 30 Mei 2018 lalu mencapai 161 kasus. Rinciannya adalah anak korban tawuran sebanyak 23 kasus (14,3 persen), anak pelaku tawuran mencapai 31 kasus (19,3 persen), anak korban kekerasan dan bullying mencapai 36 kasus (22,4 persen), anak pelaku kekerasan dari bullying mencapai 41 kasus (25,5 persen) dan anak korban kebijakan sekolah mencapai 30 kasus (18,7 persen).

Baca Juga: Pernah Alami Bullying, 2 Public Figure Malang Ini Beber Pengalaman dan Tips Hadapi Bullying

Tingginya angka bullying di sekolah membuat KPAI mewanti-wanti para pelajar. Hal ini karena kemungkinan besar pelaku bullying di sekolah kerap melanjutkan perilakunya itu di dunia maya sehingga bully yang dilakukannya sudah berubah menjadi cyberbully.

“Tingginya angka kekerasan dan bullying di sekolah menjadi pesan bagi semua orang tua dan guru bahwa para siswa kita rentan menjadi korban dan bahkan pelaku bully, baik di dunia nyata maupun di dunia maya,” kata Komisioner KPAI Retno Listyarti sebagaimana dikutip dari Kumparan.com (22/7/2018) lalu.

Baca Juga: Penyandang Tuna Daksa Ini Beberkan Pengalaman Jadi Korban Bullying

Data Kementerian : 8 dari 10 Siswa Mengalami Kekerasan

Data ini kemudian diperkuat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) yang dirangkum dalam ikhtisar eksekutif strategi nasional penghapusan kekerasan terhadap anak pada rentang waktu 2016 – 2020. Data tersebut menunjukkan sebanyak 84 persen siswa pernah mengalami tindakan kekerasan yang dengan kata lain berarti setiap 8 dari 10 siswa pernah mengalami kekerasan.

Rincian bentuk kekerasan yang diterima antara lain 45 persen siswa laki-laki mengatakan guru atau petugas sekolah sebagai pelaku kekerasan, 40 persen siswa usia 13 – 15 tahun melaporkan kekerasan fisik dari teman sebaya, 75 persen siswa mengaku pernah melakukan kekerasan, 22 persen siswa perempuan menyebutkan guru atau petugas sekolah sebagai pelaku kekerasan, dan 50 persen anak melaporkan pernah mengalami bullying di sekolah.


Karet Bungkus : Ilham Musyafa
Penulis : Raka Iskandar
Editor : Raka Iskandar
Ilustrator : Nanda Tri Pamungkas

6 Tips Wisata ke Patung GWK Bali, Nomor 3 Turis Wajib Tau!

Ini Dia 7 Patung Tertinggi di Dunia, Nggak Nyangka No.3 Ada di Indonesia!
Patung GWK atau Garuda Wisnu Kencana di Bali (Istimewa)

MALANGTODAY.NET 28 tahun lamanya penantian wisata patung Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) akhirnya selesai. Patung karya seniman kenamaan Bali, Nyoman Nuarta ini berlokasi di kawasan Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, Jl Raya Uluwatu, Ungasan, Kabupaten Badung, Bali.

Kemegahan dan eksotisme GWK membuat banyak pelancong lokal sampai mancanegara yang berkunjung. Belum lagi ukurannya yang digadang-gadang menjadi salah satu yang tertinggi di dunia membuat orang banyak penasaran.

Ada tips nih Zens, buat kamu yang baru ingin mengunjunginya atau yang sudah kesana namun masih kurang greget. Melansir dari laman Detik Travel, yuk langsung simak di bawah ini!

Baca Juga: Kenapa Orang Bali Bernama Made, Wayan, Ketut? Ini Alasannya

1. Datangi berbagai spot di kawasan GWK Cultural Park

Seperti yang dibilang di awal, GWK Cultural Park merupakan sebuah kawasan yang luasnya sekitar 60 hektar. Rugi banget pasti kan Zens kalau kamu datang ke sana hanya untuk melihat patung.

Kamu bisa berjalan kaki santai ke Wisnu Plaza dengan patung Wisnu setinggi 20 meter, Garuda Plaza dengan patung Garuda, Lotus Pond, Tirtha Agung dan lain sebagainya.

2. Keliling naik segway

Segway Fun Ride yang tersedia pukul 10.00 sampai 22.00 WITA. Buat yang belum tau segway merupakan kendaraan listrik minimalis yang bisa seimbang dengan sendirinya.

Selain itu ada pula GWK Photo Studio untuk kamu yang mau foto-foto sambil mengenakan pakaian tradisional Bali dan langsung dicetak. Studio ini beroperasi pukul 10.00-19.00 WITA. Biaya fotonya mulai dari Rp 200 ribu.

3. Cek jadwal pertunjukan

Gak cuma lihat patung dan keliling doang kok, lebih dari itu GWK Cultural Park mengadakan sejumlah pertunjukan budaya. Mulai dari tari Bali, tari Barong Keris, parade Kang Cing Wie dan masih banyak lagi yang pasti rugi untuk dilewatin.

Sebaiknya cek dulu jadwal dan lokasinya sebelum menonton. Karena masing-masing pertunjukan jadwalnya berbeda.

4. Kenakan pakaian dan sepatu yang nyaman

Berhubung area wisata GWK begitu luas Zens, sebaiknya kamu mengenakan pakaian dan sepatu yang nyaman ya. Ini mengantisipasi agar kamu yang gak biasa jalan jauh bisa lebih nyaman.

Bawalah barang-barang secukupnya saja agar gerak lebih leluasa tanpa ribet membawa tas yang berat.

5. Sedia topi dan air minum

Kalau berkunjung pada siang hari biasanya cuaca cukup panas. Kenakan sunblock, pakai topi dan jangan lupa sedia air minum. ZensTODAY yang gak bawa minum atau cemilan dari penginapan bisa juga kok beli di kawasan GWK.

Baca Juga: Dinilai Tak Mendidik, Risma Diminta Batalkan Perubahan 2 Nama Jalan Ini

6. Belanja oleh-oleh

Terakhir dan yang pasti gak boleh dilewatin. Sisihkan biaya sebelum kamu benar-benar kembali. Di dalam area GWK Cultural Park ada toko Kencana Souvenir yang menjual beragam suvenir buat dibawa pulang, seperti kaos, topi, gantungan kunci dan tas.

Kemudian sebelum memasuki kawasan GWK Cultural Park tersedia pula toko-toko lain yang menjual suvenir kerajinan tangan unik dan otentik, serta jajanan dan minuman.


Penulis: Ilham Musyafa
Editor: Ilham Musyafa

Tarik Paksa Motor Warga, 2 Debt Collector Diamankan Polsek Singosari

Tarik Paksa Motor Warga, 2 Debt Collector Diamankan Polsek Singosari
Kedua debt collector bersama barang bukti yang diamankan di Polsek Singosari

MALANGTODAY.NET – Anggota Unit Polsek Singosari terpaksa mengamankan dua orang debt collector yang telah meresahkan masyarakat. Mereka diamankan setelah beraksi di Jalan Raya Karanglo depan kawasan Ruko Mondoroko Selatan, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Rabu (16/9).

Adapun kedua debt collector yang diamankan antara lain, Y (43) warga Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan dan A (43) warga Perum Pakisjajar Permai, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Penangkapan kedua pelaku berawal saat korban, S (51) warga Desa Patokpicis, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang sedang mengendarai sepeda motor Honda Beat W 3988 WV bersama anak dan istrinya.

Baca Juga: Selamat Hari Bebas Kendaraan Bermotor, Untuk Bumi yang Lebih Baik

Kemudian saat melintas di Jalan Raya Karanglo atau di lokasi kejadian, tiba-tiba korban dipepet tiga orang tak dikenal berpakaian preman sambil diteriaki ‘Berhenti, berhenti!’. Korban yang merasa tak kenal dengan ketiga orang tersebut akhirnya tetap melaju dan mencoba meninggalkan mereka.

“Korban tetap dipepet dan korban takut jatuh karena pada saat itu sedang membonceng istri dan anaknya yang masih kecil. Akhirnya korban dihentikan paksa, kemudian korban disuruh turun, dan dipaksa untuk menyerahkan sepeda motornya. Dari salah satu (debt collector) sempat menunjukkan lencana berlogo polisi,” terang Kanit Reskrim Polsek Singosari, Iptu Supriyono dalam rilis di Mapolsek Singosari, Sabtu (22/9).

Korban kemudian diancam akan dibawa ke kantor polisi oleh para debt collector tersebut. Setelah sepeda motor korban dapat dikuasai, selanjutnya korban dibawa debt collector menuju ke kantor Mega Finance di Jalan Ciliwung, Kota Malang.

“Anak dan istri korban ditinggal di lokasi. Di kantor tersebut korban dimintai uang pelunasan Rp 5 juta,” terangnya.

Menolak dan merasa dibawah ancaman, akhirnya korban justru melaporkan apa yang dialaminya ke Polsek Singosari. Para debt collector yang melakukan pengancaman terhadap korban pun akhirnya diringkus polisi.

Baca Juga: Pernah Alami Bullying, 2 Public Figure Malang Ini Beber Pengalaman dan Tips Hadapi Bullying

“Dari hasil pemeriksaan, dari setiap satu unit itu mereka dapat Rp 1,1 juta,” tandas Supriyono.

Akibat perbuatannya itu, kedua pelaku kini harus mendekam dibalik jeruji besi Polsek Singosari. Mereka akan dijerat Pasal 368 KUHP tentang pemerasan disertai ancaman, dengan ancaman hukuman 9 tahun.


Reporter : Dhimas Fikri
Editor : Kistin Septiyani

Berita Terbaru